Ini terlihat dari pernyataannya bahwa Zelenskyy tak punya legitimasi karena masa jabatannya telah selesai dan menolak proposal perdamaian AS yang sudah disesuaikan dengan masukan Zelenskyy. Realisme politik Trump membawanya pada pengabaian terhadap tatanan internasional.
Berbeda dengan liberalisme politik dalam hubungan internasional yang menekankan kerja sama, institusi internasional, dan nilai-nilai bersama, realisme politik memandang dunia sebagai arena kompetitif dan konfliktual, di mana negara bertindak rasional demi kepentingan nasional dan kekuatan untuk survival dalam sistem yang anarkis.
Kaum realis berfokus pada keamanan dan kekuatan, skeptis terhadap kerja sama, dan mengedepankan prinsip self-help karena tidak ada yang bisa dipercaya sepenuhnya di panggung dunia. Maka dalam kompetisi dengan China, Trump menggunakan semua kekuatan AS – ekonomi, teknologi, politik, dan militer – untuk menekannya.
Tapi AS tak punya kekuatan cukup untuk membendung kompetitornya itu yang telah menguasai teknologi canggih serta kekuatan militer yang kompetitif. AS adalah imperlialis yang mulai uzur yang, sesuai dengan falsafah sejarah, tak akan bisa bertahan untuk selamanya.
Krisis Venezuela dan Taiwan
Tuduhan Trump bahwa Nicolas Maduro terlibat kartel narkoba ini tidak disertai bukti. Alasan sebenarnya adalah menjatuhkan rezim kiri, sekaligus menggembosi pengaruh China di sana. China, selain importir minyak Venezuela, juga sedang mengeksploitasi komoditas strategis di sana.
Permusuhan AS terhadap negara ini dimulai sejak 1990-an saat pemerintahan Hugo Chavez menasionalisasi industri minyak negaranya. Maduro melanjutkan kebijakan Chavez yang berhubungan erat dengan Iran dan China. Dengan Rusia malah Venezuela punya perjanjian pertahanan. Karena Putin tak bersuara soal ini, maka dugaan adanya kerja sama AS-Rusia terkonfirmasi.
Iran dan Venezuela dituduh AS mengekspor minyak mereka secara tersamar dengan melanggar sanksi AS. Bagaimanapun, aksi Trump berpotensi menciptakan krisis di Amerika Latin secara luas, yang terlihat dari reaksi negatif sebagian besar negara di kawasan.
China mengecam AS karena hilangnya pasokan minyak Venezuela membuat ketergantungannya pada minyak Timteng dan AS semakin besar. Ini akan mengungkit bargaining chip AS vis a vis China terkait tarif resiprokal dan komoditas tanah jarang China.
Walakin, pendudukan AS atas Venezuela melemahkan posisi moral dan hukum internasional AS, yang dapat mendorong China melakukan hal serupa untuk Taiwan, yang akan berdampak besar pada perdagangan dunia mengingat Taiwan adalah produsen semikonduktor terbesar dan tercanggih di dunia.
Dan Selat Taiwan sangat strategis, tempat lalu-lalang tanker dan kapal kargo yang mengangkut barang senilai 5 triliun dollar per tahun. Ini bisa menjadi pengantar bagi krisis besar di Asia Pasifik. Belum lama ini, PM Jepang Sanae Takaichi menyatakan serangan China ke Taiwan akan dilihat sebagai ancaman eksistensial Jepang.
Uni Eropa, Inggris, dan Australia pun memperingatkan Beijing setelah Presiden Xi Jinping menyatakan upaya China menganeksasi Taiwan tak dapat dihentikan. Memang aksi Trump yang menjungkirbalikkan tatanan internasional berbasis hukum menjadi presden bagi negara lain.
Eskalasi Timteng







Komentar