Ia menambahkan, pendamping haji seharusnya memiliki kemampuan bahasa Arab yang baik, memahami teknis ibadah haji, serta memiliki pengalaman mendampingi jemaah. “Kementerian Haji dibentuk untuk membenahi pengelolaan haji, bukan malah menciptakan masalah baru,” ujarnya.
Yang paling disorot adalah lolosnya sosok inisial IHA yang dinilai tidak memiliki rekam jejak kuat dalam pendampingan haji, namun berhasil mengalahkan calon PHD lain yang dikenal luas sebagai pembimbing haji berpengalaman, fasih berbahasa Arab, dan telah menetap bertahun-tahun di Madinah.
“Ini IHA punya kapasitas apa sampai bisa mengalahkan calon-calon lain yang dikenal luas sudah puluhan tahun membimbing jemaah, menguasai medan, bahasa, dan teknis ibadah haji?” tandas sumber tersebut.
Ia menilai, keputusan ini sangat disayangkan karena berpotensi merugikan jemaah haji yang membutuhkan pendamping berkompeten. “Kasihan jemaah hajinya. Mereka butuh pendamping yang bisa membimbing, bukan yang justru membebani,” tambahnya.




Komentar