Namun, publik tampaknya lebih fokus pada angka Rp86 ribu.
Said menyarankan agar Pemprov Malut meninjau ulang nomenklatur program ini. “Kalau memang dananya terbatas, ya jangan bikin tema bombastis. Sesuaikan saja secara proporsional. Jangan sampai rakyat berharap kuliah, tapi yang datang malah sepiring popeda,” pungkasnya.
Menutup pernyataannya, Said menggarisbawahi bahwa Program beasiswa ini sejatinya punya niat mulia: mencetak sarjana dari keluarga miskin ekstrem. Tapi, seperti kata pepatah, “Jangan menanam padi di pot bunga.” Kalau mau hasil besar, ya modalnya juga harus besar. Atau setidaknya, jangan sampai rakyat merasa dibodohi oleh program yang katanya untuk pendidikan, tapi nilainya setara dengan makan siang di warung sebelah”tutup dia













Komentar