Ia menyebut diplomasi Natal Rusli–Rio sebagai bentuk investasi sosial jangka panjang yang menopang pembangunan ekonomi dan politik daerah. “Pembangunan tidak hanya soal infrastruktur, tapi juga kemampuan merawat relasi sosial dan menumbuhkan rasa memiliki bersama atas masa depan Morotai,” katanya.
Syahrir menutup pernyataannya dengan harapan agar pendekatan inklusif ini dijaga dengan konsistensi dan kerendahan hati. “Jika terus dirawat, Morotai bisa menjadi rujukan penting di Indonesia Timur dalam membangun kepemimpinan yang peka terhadap realitas sosial. Di tengah menguatnya politik identitas, pengalaman ini menjadi pesan yang sangat relevan dan strategis bagi kehidupan bersama,” pungkasnya.***








Komentar