oleh

SARUMA FEST 2025: Spektrum Peradaban Harmoni dari Halmahera Selatan

-Artikel-580 Dilihat

Pengamat Sosiao ini menyatakan, Kolaborasi antara Bupati Bassam Kasuba dan Wakil Bupati Helmi Umar Muchsin menjadi contoh nyata bagaimana kepemimpinan dapat menjelma menjadi kekuatan pemersatu, bukan sekadar kekuasaan administratif.

Syahrir menilai bahwa Kehadiran 21 etnis dalam satu panggung budaya bukan hanya pertunjukan seni, melainkan pernyataan politik kebudayaan yang kuat: ruang publik di Halmahera Selatan dikelola secara inklusif, tanpa dominasi identitas tertentu. Ini adalah langkah maju dari memori konflik menuju memori kebersamaan—sebuah pergeseran penting dalam spektrum peradaban.

Baca Juga  Dari Katolik ke Mualaf IPB! Inilah Kisah Perjalanan Spiritual Felix Siauw, Pendakwah Tionghoa yang Kini Jadi Panutan Milenial

Tidak sebatas sosial, Secara politis, SARUMA FEST nilai akademisi ini berfungsi sebagai diplomasi budaya internal. Budaya menjadi bahasa politik yang halus namun mengakar, menghadirkan kekuasaan dalam bentuk simbolik yang diterima secara sosial, bukan dipaksakan. Ini adalah praktik kekuasaan yang membangun, bukan menguasai.

Lebih jauh, festival ini menegaskan bahwa pembangunan tidak hanya soal infrastruktur atau pertumbuhan ekonomi, tetapi juga tentang **pembangunan manusia dan relasi sosialnya**. Melalui visi sinergi agromaritim dan harmoni budaya, SARUMA FEST memperkuat infrastruktur sosial: kepercayaan, stabilitas, dan rasa memiliki.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed