“Bagi kami, sikap dan tampilan para buzzer yang disinyalir berasal dari luar Maluku Utara sangat mencederai adat se atoran Moloku Kie Raha,” tandasnya.
Reaksi serupa juga datang dari warganet. Salah satu akun Facebook dengan nama Nyong Ternate menulis pesan moral yang menyentuh, meminta agar nama almarhum KH. Gani Kasuba tidak lagi dijadikan bahan perdebatan politik.
“Yang sudah pergi biarlah tenang di sisi Tuhan. Pengadilan dunia saja menghapus semua masalahnya kok, kalian dengan berbagai disiplin ilmu dan agama seolah-olah tak beragama dan tak bermoral,” tulisnya pada statusnya.
Menurut Nyong Ternate, kritik yang disampaikan Nazla adalah bagian dari tugas konstitusional sebagai anggota legislatif dalam menjalankan fungsi pengawasan terhadap eksekutif. Ia menilai, perdebatan seharusnya fokus pada substansi kritik, bukan menyeret urusan pribadi atau keluarga.
“Urusan anaknya (Nazla Kasuba) dengan gubernur (Sherly Tjoanda) itu urusan kelembagaan. Itu bagian dari profesionalitas sebagai legislator dalam mengawasi eksekutif,” ujarnya.









Komentar