Saat ini, Jokowi punya beban generasi. Ada Gobran, Bobi Nasution dan Kaesang dengan PSI-nya. Ketika Jokowi terus merespon isu “ijasah palsu” dengan mentersangkakan para tokoh, maka panggung Jokowi akan semakin becek. Ini tentu sangat berpengaruh pada masa depan karir politik Gibran, Bobi Nasution dan PSi. Langkah Jokowi mentersangkakan delapan tokoh yang suaranya nyaring di publik ini, secara politik, merupakan langkah kontra-produktif.
Jika ada yang bilang bahwa “Jokowi juga manusia” punya hati dan perasaan. Ini ok. Nampaknya ada luka di hati Jokowi dengan semua kritik dan hujatan kepadanya soal isu “ijasah palsu”. Ini hal wajar dan normal. Sama juga dengan luka hati mereka yang pernah terpenjara di era Jokowi. Atau luka hati para orang tua yang anak-anaknya terbunuh di kasus KM 50. Tapi di sisi lain, ekspresi luka hati Jokowi potensial membuat ruang politik bagi Gibran, Bobi Nasution dan Kaesang semakin sempit, bahkan buntu.
Tapi, harus dipahami bahwa Jokowi adalah politisi yang sangat piawai. Manuvernya sangat dan bahkan paling sulit ditebak. Bisa jadi nanti Jokowi akan tunjukkan “ijasah aslinya” jika itu ada, lalu mencabut tuntutannya, dan deklarasi “memaafkan delapan tersangka itu”. Kalau ini yang dilakukan, maka Jokowi harus diakui bahwa ia adalah begawan politik dan politisi super tulen yang mampu bersikap rasional meski ada luka dalam di hatinya.
Kita tunggu, apakah delapan tersangka akan dimaafkan, lalu Jokowi tampil sebagai manusia bijak? Atau proses hukum akan terus berjalan dan menvonis delapan tokoh itu? Semua pilihan ada konsekuensi politiknya.
Semarang, 16 Nopember 2025









Komentar