Ia bahkan menyebut proyek Trans Kie Raha sebagai proyek politis yang ambisius dan didesain untuk kepentingan oligarki, bukan rakyat.
Kini, publik menanti realisasi debat terbuka yang diusulkan KAHMI. Forum ini dinilai penting untuk menguji secara akademis dan transparan apakah proyek Trans Kie Raha benar-benar layak dan berpihak pada kepentingan rakyat, atau justru menjadi proyek siluman yang sarat kepentingan elite.
Apakah Gubernur Sherly berani hadir dan membuka semua dokumen FS di hadapan publik? Atau justru memilih jalan senyap seperti proyek yang ia usung?
Waktu akan menjawab. Yang pasti, rakyat Maluku Utara kini menanti panggung debat yang bisa menjadi titik terang dari proyek yang penuh tanda tanya ini.***














Komentar