oleh

CATATAN REDAKSI : Jambula, Ketika Pemerintah Datang dan Jalan Kembali Terbuka

-Editorial-510 Dilihat

Sore itu, jalan utama menuju Depot Pertamina Jambula masih tertutup. Barikade dari kayu dan batu disusun warga sejak pagi, menandai puncak kemarahan yang sudah lama menumpuk. Bukan karena provokasi, tapi karena rasa lelah menunggu janji yang tak kunjung ditepati.

Suara ombak yang menghantam pesisir bercampur dengan teriakan massa yang menuntut satu hal sederhana: kehadiran pemerintah.

Dan sore itu, mereka datang.
Gubernur Maluku Utara, Sherly Djoanda, melangkah di tengah kerumunan dengan pengawalan ketat. Di sisi lain, Sekretaris Kota Ternate, Dr. Rizal Marsaoly, menyambut warga dengan tenang, mencoba menenangkan suasana yang menegang. Bukan sekadar kunjungan formal melainkan pertemuan hati yang menautkan kembali kepercayaan publik yang sempat retak.

“Akan diupayakan masuk program tahun 2026. Ini bersifat urgensi tinggi dan menyangkut keselamatan warga pesisir,” ujar Sherly lantang, menanggapi tuntutan pembangunan breakwater sepanjang 300 meter yang menjadi sumber utama keresahan warga.

Di wajah para nelayan, ada secercah lega. Di balik derasnya ombak dan abrasi yang menggerus tempat tinggal mereka, ada harapan baru: bahwa pemerintah benar-benar hadir.

Tak berhenti di situ, Sherly juga berjanji mengganti enam perahu nelayan berukuran 1,5 GT yang rusak akibat gelombang besar beberapa waktu lalu. “Penggantian akan dilakukan pada minggu kedua Desember ini,” tambahnya, disambut tepuk tangan warga dan tangis haru ibu-ibu nelayan di tepi jalan.

Di momen itu, politik berubah menjadi kemanusiaan.

Sementara itu, Dr. Rizal Marsaoly, birokrat yang dikenal teknokratik dan komunikatif, berdiri di hadapan warga. Dengan gaya khasnya yang lugas, Rizal menegaskan bahwa Pemkot Ternate akan berkolaborasi dengan Pemprov dalam menuntaskan semua tuntutan masyarakat Jambula.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *