oleh

Penolakan Luas atas Pembongkaran Ikon Salawaku di Masjid Raya Shafulkhaerat: Dinilai Menghapus Jejak Sejarah dan Budaya

-Malut-1708 Dilihat

Sofifi — Pembongkaran ikon Salawaku di Masjid Raya Shafulkhaerat memicu gelombang protes dari berbagai kalangan di Maluku Utara. Tindakan itu dinilai bukan sekadar perubahan fisik pada bangunan ibadah, melainkan usaha penghilangan jejak sejarah dan pengabaian terhadap nilai-nilai budaya yang telah lama melekat dalam peradaban daerah.Sejumlah tokoh dan masyarakat menyesalkan kebijakan pembongkaran yang dianggap menghapus jejak almarhum KH. Gani Kasuba, mantan Gubernur Maluku Utara sekaligus tokoh penggagas dan pendiri masjid tersebut. Menurut para penentang, Salawaku bukan sekadar ornamen — ia merupakan simbol peradaban dan perekawinan antara Islam serta budaya lokal Moloku Kie Raha.

Baca Juga  IMM Maluku Utara Apresiasi Kepedulian Haji Robert dalam Perjuangan Kemanusiaan Ade Tiwi

“Aksi ini menunjukkan ketidakpahaman terhadap sejarah Moloku Kie Raha, bahwa Islam dan budaya menyatu dalam peradaban,” tegas Abdul Hasan, yang secara vokal menolak pembongkaran tersebut. Hasan juga menegaskan bahwa Salawaku telah diakui sebagai simbol budaya provinsi, bukan milik satu kelompok suku. “Salawaku itu telah menjadi ikon peradaban Moloku Kie Raha, bukan suku tertentu. Buktinya, setiap tarian daerah — baik Tobelo, Galela, tarian soya-soya maupun tarian lainnya di Maluku Utara — menggunakan salawaku sebagai media adat,” jelasnya.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *