oleh

PERTUMBUHAN EKONOMI VS PEMERATAAN: ANTARA ANGKA DAN RASA

-Artikel-317 Dilihat

Dalam setiap babak perjalanan bangsa, pertanyaan klasik ini terus bergema: mana yang harus didahulukan, pertumbuhan ekonomi atau pemerataan hasil pembangunan? Sejak era Orde Baru hingga masa Reformasi, dilema ini tak pernah kehilangan relevansi. Di satu sisi, kita mendambakan angka-angka pertumbuhan yang tinggi, grafik ekonomi yang menanjak, dan pujian dari lembaga internasional. Namun di sisi lain, kita juga tak bisa menutup mata terhadap kenyataan di lapangan: ketimpangan yang menganga, kesenjangan sosial yang mencolok, dan rasa keadilan yang kian memudar.

Baca Juga  Dari Katolik ke Mualaf IPB! Inilah Kisah Perjalanan Spiritual Felix Siauw, Pendakwah Tionghoa yang Kini Jadi Panutan Milenial

Mari kita menengok ke belakang, ke masa Orde Baru, ketika sekelompok teknokrat yang dijuluki “Mafia Berkeley”—lulusan University of California, Berkeley—menjadi arsitek utama kebijakan ekonomi Indonesia. Tokoh-tokoh seperti Emil Salim, Widjojo Nitisastro, Ali Wardhana, dan J.B. Sumarlin merancang strategi pembangunan yang sangat pro-pasar dan berorientasi pada pertumbuhan. Hasilnya? Indonesia mencatatkan pertumbuhan ekonomi yang luar biasa, bahkan sempat mencapai rata-rata di atas 8 persen. Kita berhasil swasembada pangan, menarik investasi besar-besaran, dan mendapat pengakuan internasional sebagai negara berkembang yang menjanjikan.

Baca Juga  KOPERASI DESA MERAH PUTIH Fondasi Baru Ekonomi Kerakyatan dari Desa untuk Indonesia

Namun, di balik gemerlap angka-angka itu, tersembunyi realitas yang getir. Ketimpangan sosial semakin tajam, kekayaan menumpuk di segelintir tangan, dan praktik korupsi, kolusi, serta nepotisme (KKN) merajalela. Ketika krisis moneter 1998 melanda, fondasi ekonomi yang dibangun dengan semangat pertumbuhan semu itu runtuh seketika. Pertumbuhan minus 13,1 persen menjadi bukti bahwa angka-angka yang selama ini dibanggakan ternyata rapuh dan menyesatkan.

Baca Juga  Dari Katolik ke Mualaf IPB! Inilah Kisah Perjalanan Spiritual Felix Siauw, Pendakwah Tionghoa yang Kini Jadi Panutan Milenial

Inilah yang disebut sebagai paradoks “Angka dan Rasa”. Di atas kertas, ekonomi tampak sehat. Tapi di lapangan, rakyat merasakan sebaliknya. Ketika angka-angka pertumbuhan tidak diiringi dengan pemerataan, maka yang terjadi adalah kecemburuan sosial, ketidakpuasan, dan potensi konflik yang mengancam stabilitas nasional. Pertumbuhan tanpa pemerataan ibarat bangunan megah yang dibangun di atas tanah yang rapuh—indah dipandang, tapi mudah runtuh.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *