Lalu, bagaimana dengan era Reformasi? Sayangnya, kita masih terjebak dalam euforia angka. Target pertumbuhan ekonomi kerap dipasang tinggi, namun realisasinya jauh dari harapan. Di era Presiden SBY, pertumbuhan hanya berkisar 6–7 persen dari target 8 persen. Di era Presiden Jokowi, angka pertumbuhan stabil di kisaran 5,2 persen dari target 7 persen. Kini, di bawah pemerintahan Presiden Prabowo, target ambisius 8 persen kembali digaungkan, namun proyeksi hingga akhir 2025 hanya mencapai 5,4 persen.
Berbagai proyek besar seperti pembangunan infrastruktur, hilirisasi industri, hingga program-program populis seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Merah Putih memang menunjukkan niat baik. Namun, jika tidak dibarengi dengan strategi pemerataan yang konkret dan berkelanjutan, maka semua itu berisiko menjadi sekadar pencitraan politik.
Sudah saatnya kita membangun fondasi ekonomi yang tidak hanya mengejar pertumbuhan, tetapi juga menjamin pemerataan. Pertumbuhan yang inklusif, yang tidak hanya menguntungkan segelintir elit, tetapi juga menyentuh kehidupan masyarakat di pelosok desa. Pemerataan bukan berarti membagi-bagi kekayaan secara merata, melainkan memastikan bahwa setiap warga negara memiliki akses yang adil terhadap peluang, pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan.
Kita tidak bisa terus-menerus terbuai oleh angka-angka yang memukau namun kosong makna. Ekonomi yang sehat bukan hanya yang tumbuh cepat, tetapi yang tumbuh merata. Karena pada akhirnya, pembangunan yang sejati adalah pembangunan yang bisa dirasakan oleh semua, bukan hanya dilihat di layar presentasi.








Komentar