oleh

MERAJUT ASA DI UJUNG SENJA – Catatan Novel ” Diana Memang Manja” Karya SBY


​Publik mungkin terkejut tatkala melihat seorang tokoh politik senior beralih peran menjadi kreator fiksi. Namun, bagi SBY, dunia tulis-menulis bukanlah tempat singgah yang asing.

Jauh sebelum bintang-bintang di pundaknya berkilau dan sebelum namanya menghiasi baliho-baliho pemilu, ia adalah seorang anak muda yang gemar merangkai kata.

Sejak duduk di bangku kelas lima sekolah dasar, imajinasinya telah berkelana lewat cerpen-cerpen berbahasa Jawa dan Indonesia.

Baca Juga  PURBAYA Vs OLIGARKI — Oleh Aswir Hadi., SE., ME (Dosen Senior FEB - Unkhair)

​Pernyataan SBY bahwa dirinya bukanlah “mualaf tentara, politisi menjadi seniman” menyimpan sebuah renungan sosiologis dan psikologis yang mendalam.

Ia menegaskan konsep “the return of the lost artist”—kembalinya seorang seniman sejati setelah lama berkelana memenuhi panggilan tugas negara.

Selama puluhan tahun, hasrat estetikanya terpaksa diredam oleh tuntutan komando dan birokrasi pemerintahan. Politik dan militer adalah sebuah keharusan sejarah; tetapi seni adalah rumah nuraninya yang paling sejati.

Baca Juga  REPUBLIK STRES

​Ketika panggung kekuasaan meredup dan badai duka menerpa, sang seniman pulang. Ia kembali ke habitat aslinya: dunia rasa, di mana imajinasi menjadi medium paling jujur untuk berdamai dengan kenyataan.

-000-

​Fiksi sebagai Katarsis

​Novel Diana Memang Manja tentu tidak boleh dibaca sekadar sebagai karya pelipur lara atau pelarian sesaat.

Di balik jalinan cerita romansa, misteri, dan pergulatan psikologis manusia yang diracik melalui riset matang, terselip otobiografi emosional sang penulis.

Baca Juga  Jacob Ereste : Antara Dungu Dengan Yang Bijak Menunggu Proses Perjalanan Waktu

SBY secara terbuka mengakui bahwa sebagian dari duka dan kerinduan mendalam yang ia rasakan bertahun-tahun silam dituangkan ke dalam narasi novel tersebut.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *