Oleh: M. Guntur Alting
—
SORE itu, Kamis 15 Oktober 2026, tepat pukul 17.30 jelang magrib, sebuah pesan masuk dari Om Haji (sapaan untuk Om H.Hasan Basri).
“Ada group keluarga Tidore sejabodetabek itu, ngoni belum masuk group?” Demikian isi pesannya.
“Oh siap, segera Om Haji”
respon saya.
Keesokannya saya di “invite” Pak Ridwan dan akhirnya bisa bergabung. Syukur dofu Om Haji dan Pak Ridwan.
Jujur saya sangat senang sekali, so lama tara baku dapa dengan basudara dari Tidore.
Di group, saya liat dihuni 133 orang, ada para sesepuh yang sudah sangat familiar, ada torang pe Mama-mama, Bibi-bibi, Om-om, Ci-ci, Kaka-kaka, Ade-adek.
Ada juga para sahabat, teman seangkatan di Aliyah Gurabati (Jokat), sahabat saya Bass dan Ana, tamang sebahaya Jusman (Jason,) yang biasa saya panggil Pak Bos. ” Apa kabar? lama tara baku dapa Pak Bos !”
Juga ada Ci Os. Dan juga yang lain, tabea.. tidak saya sebutkan satu-satu.
Tulisan sederhana ini adalah wujud dari rasa syukur, dan sekaligus sekedar dedikasi untuk saling berbagi pikiran.
Lahi tabea.. untuk para sesepuh, Om Haji, Om Ade, Om khaer dan para tokoh
lainnya. Tidak bermaksud “menggurui” hanya ungkapan ” Tahniah” semata.
-000-
Kita semua, para perantau di Jabodetabek ini, adalah orang-orang yang hidup berkejaran dengan “Sang Waktu.”
Dan di sinilah ironinya. Di tengah kota yang padat oleh jutaan kepala, kesepian adalah perasaan yang paling sering kita alami.















Komentar