Di satu sisi, publik boleh saja melambungkan asa. Kehadiran Rocky Gerung sebagai Rausyan Fikr—pencerah dari apa yang kerap ia sebut “kedunguan berjamaah”—diharapkan membawa Radical Break langsung dari jantung Istana. Langkah ini dipersepsikan sebagai bagian dari “Operasi Sandi Yudha” Presiden Prabowo untuk membedah borok birokrasi dan menyelaraskan arah kebijakan dengan visi sosialis-Pancasila.
Namun, mari kita tanggalkan kenaifan politik itu sejenak. Diteropong dari kacamata Etika Publik, Akuntabilitas Kebijakan, dan Perilaku Elite, merapatnya para kritikus tajam ke tampuk kekuasaan menyisakan alarm bahaya bagi masa depan demokratisasi kita:
1. Siasat Kooptasi dan Jinaknya Sang Pengkritik:
Dalam ilmu politik, merangkul penentang paling vokal adalah strategi klasik nan mematikan yang disebut kooptasi (co-optation). Ketika oposisi diberi panggung dan jabatan, taring mereka pelan-pelan ditumpulkan. Fokus yang dulunya membela jeritan rakyat di jalanan, berisiko bergeser menjadi kompromi demi menjaga stabilitas dan wibawa rezim.








Komentar