oleh

Dr. H. M. Tauhid Soleman dan Dr. Rizal Marsaoly Tampil di Konker PGRI Kota Ternate, Dua Pemikiran Futuristik Bertemu

-Kota Ternate-171 Dilihat

 

TERNATE – Panggung Balai Pelatihan Vokasi Ternate, Jumat (9/10/2026), terasa berbeda. Bukan sekadar Konferensi Kerja I PGRI Masa Bakti XXIII. Di sana, dua pemikiran futuristik Kota Ternate bertemu dalam satu panggung.

Di satu sisi ada Dr. H. M. Tauhid Soleman, Wali Kota Ternate, sang arsitek visi kota. Di sisi lain ada Dr. Rizal Marsaoly, Sekretaris Daerah sekaligus Ketua PGRI Kota Ternate, sang jenderal birokrasi yang kini menatap masa depan dari lorong kelas.

Baca Juga  ULASAN REDAKSI: PESAN DARI RAKERNAS XII JKPI DI KOTA TERNATE — "TETAP OPTIMIS DENGAN NKRI”

Keduanya berbicara tentang hal yang sama: guru. Tapi dengan frekuensi masa depan.

RIZAL MARSAOLY: GURU HARUS NAIK KELAS DARI KAPUR KE AI

Rizal Marsaoly membuka dengan refleksi 81 tahun PGRI. Bagi Rizal, usia itu bukan soal tua, tapi soal ujian persatuan.

Ia lalu mengutip falsafah Ternate yang jarang diucapkan pejabat di forum resmi: “Ino Fomakati Nyinga, doka gosora se bualawa, om doro fo mamote, fo magogoru, fo ma dudara.” Semangat persaudaraan, kebersamaan dalam memikul tugas organisasi.

Baca Juga  Dr. RIZAL MARSAOLY DAN WARISAN TRADISI SUKSES POLITIK PEMERINTAHAN KOTA TERNATE

Tapi Rizal tidak berhenti di nostalgia. Ia langsung menembak ke depan.

Menurutnya, tantangan guru Ternate hari ini bukan lagi sekadar kurikulum. Tantangannya adalah disrupsi.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *