JAKARTA — Pengamat politik dan hukum Muslim Arbi menilai pengusaha asal Kalimantan Selatan, Andi Syamsuddin Arsyad alias Haji Isam, memiliki potensi besar untuk mengakuisisi PT Bank Central Asia Tbk (BCA). Kekuatan finansial, jaringan bisnis lintas sektor, serta kemampuan membangun kerja sama dengan berbagai pihak dinilai menjadi modal penting bagi Haji Isam untuk memasuki industri perbankan.
Menurut Muslim Arbi, kemungkinan Haji Isam mengakuisisi BCA bukan sesuatu yang mustahil untuk diperbincangkan. Terlebih, BCA merupakan perusahaan terbuka yang sahamnya diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia (BEI), sehingga secara prinsip kepemilikannya dapat berubah melalui mekanisme pasar modal dan ketentuan yang berlaku.
“Haji Isam sangat potensial membeli BCA. BCA sendiri merupakan perusahaan terbuka. Dengan harta yang dimilikinya, Haji Isam sangat mampu membeli BCA,” kata Muslim Arbi kepada wartawan, Senin (28/9/2026).
Muslim menjelaskan, potensi tersebut tidak semata-mata dilihat dari besarnya kekayaan pribadi Haji Isam, tetapi juga dari kemampuan kelompok usahanya mengembangkan bisnis, mengelola aset, dan melakukan ekspansi dalam skala besar.
Menurutnya, pengusaha yang memiliki jaringan bisnis luas mempunyai sejumlah pilihan untuk merealisasikan transaksi besar, mulai dari penggunaan dana internal, pembentukan konsorsium, kerja sama dengan investor strategis, hingga pembiayaan melalui lembaga keuangan.
“Kalau kita melihat perjalanan bisnis Haji Isam, ekspansinya sudah merambah berbagai sektor. Ini menunjukkan bahwa dia memiliki kemampuan membangun dan mengembangkan usaha dalam skala besar. Akuisisi perusahaan besar tidak selalu harus dilakukan dengan uang pribadi secara keseluruhan, tetapi bisa melalui berbagai skema pembiayaan dan kerja sama bisnis yang sah,” ujar Muslim.
Ia menambahkan, masuknya pengusaha besar ke sektor perbankan juga dapat dilihat sebagai bagian dari strategi diversifikasi usaha. Perbankan memiliki posisi strategis dalam menopang kegiatan ekonomi, termasuk pembiayaan industri, perdagangan, perkebunan, pertambangan, dan sektor produktif lainnya.
“Kalau seorang pengusaha memiliki bisnis di berbagai sektor, memiliki bank tentu bisa menjadi bagian dari strategi pengembangan ekosistem bisnisnya. Namun, tentu saja harus memenuhi seluruh ketentuan perbankan, termasuk persyaratan kepemilikan, permodalan, dan persetujuan regulator,” katanya.
Pernyataan tersebut muncul di tengah rumor mengenai kemungkinan pengambilalihan saham BCA oleh Haji Isam yang ramai diperbincangkan di media sosial dan kalangan pelaku pasar.
Isu ini semakin menyita perhatian setelah Haji Isam melalui kelompok usahanya dikabarkan melakukan ekspansi bisnis besar-besaran, termasuk rencana akuisisi saham perusahaan tambang batu bara PT Bayan Resources Tbk (BYAN).
BCA bukan perusahaan dengan nilai transaksi yang kecil. Bank swasta terbesar di Indonesia tersebut memiliki kapitalisasi pasar mencapai Rp767,76 triliun berdasarkan data perdagangan saham pada Jumat (25/9/2026).
Data pasar yang dihimpun Stock Analysis menunjukkan harga saham BBCA ditutup pada level Rp6.250 per lembar pada tanggal tersebut. Sementara itu, berdasarkan data Bursa Efek Indonesia yang dikutip Katadata, kapitalisasi pasar BCA pada Agustus 2026 mencapai Rp790,22 triliun, menjadikannya emiten dengan kapitalisasi pasar terbesar di BEI.
Besarnya nilai kapitalisasi pasar tersebut menunjukkan bahwa pengambilalihan BCA membutuhkan sumber pendanaan yang sangat besar, terlebih jika calon pengakuisisi berniat mengambil alih saham pengendali.














Komentar