oleh

Dari Oligarki ke Oligarki


Muncul guyonan “sembilan naga diganti sembilan haji”. Namanya juga guyonan. Guyonan ini muncul karena ada satu nama pengusaha bergelar haji yang dianggap cukup kuat dan dekat dengan istana. Ada pengusaha lain, lebih dekat dan lebih kuat, tapi tidak bergelar haji. Tidak mungkin haji. Kenapa? Pakai nanya lagi.

Pergantian oligarki merupakan hal biasa. Pertanyaannya: oligarki baru seperti apa yang akan mengganti oligarki lama? Kalau sama, yo dobol ! Apalagi kalau lebih buruk, lebih kejam dan lebih rakus.

Baca Juga  CATATAN REDAKSI BUNG PIMRED : GUB SHERLY POTONG TTP, ASN: HUUUUUUUUU

Sama itu artinya ya merampok aset negara dan maling APBN. Melakukan bisnis ilegal dan ngemplang pajak. Menciptakan kartel baru di semua lini bisnis.

Indonesia menjadi negara nomor dua di dunia tempat beredar uang gelap. Bahasa kerennya unrecording. Infonya jumlah dana unrecording di Indonesia itu mencapai 22%-24% dari PDB. PDB kita tahun 2025 itu Rp 23.821,1 triliun. Ini catatan resmi. Berarti ada lebih Rp.5000-an triliun yang tak tercatat. Unrecording. Termasuk di dalamnya adalah ekspor-impor ilegal, un-invoicing dan under-invoising. Senua bisnis dan uang gelap ini tak akan berjalan tanpa back up orang-orang kuat yang punya akses kekuasaan.

Baca Juga  6 Buah Buku, 66 Tahun Bambang Isti Nugroho Seperti Energi Pembangkit Etos Perlawanan Yang Enggan Menyerah — Oleh Jacob Ereste

Jika oligarki baru juga pemain gelap, buat apa kampanye anti oligarki?

Berbeda jika oligarki baru yang muncul itu adalah para pengusaha yang taat regulasi, bersaing tanpa privillage dari penguasa, bayar restribusi dan pajak sesuai kewajiban, maka Indonesia punya harapan terhadap perubahan. Mungkinkan? Hanya bukti yang akan menjawabnya.

Jakarta, 15 Juni 2026

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *