“Nama beliau tidak hanya hidup dalam arsip pemerintahan, tetapi hidup dalam percakapan masyarakat, dalam cerita rumah-rumah kecil warga, dan dalam kenangan orang-orang yang pernah merasakan sentuhan kebijakannya,” katanya.
Syahrir mengaku mengenal langsung H. Bur sebagai pribadi yang dekat dengan masyarakat dan terbuka pada berbagai kalangan. “Beliau sering hadir membersamai masyarakat tanpa sekat formalitas yang berlebihan. Kesederhanaan itu yang membuat beliau begitu dicintai.”
Warisan Barifola: Pembangunan Berbasis Gotong Royong
Syahrir Ibnu mengenang salah satu warisan sosial yang membekas, menurut Syahrir, adalah program Barifola — renovasi rumah tidak layak huni dengan semangat gotong royong.
“Program ini menjadi sangat istimewa karena bukan hanya membangun rumah, tetapi membangun harapan dan martabat masyarakat kecil. Proses pengerjaannya melibatkan kebersamaan warga. Semua hadir membantu, saling menopang, dan bergandengan tangan,” jelasnya.
Dalam perspektif sosiologi pembangunan, ia menyebut konsep itu bernilai karena memaknai pembangunan sebagai gerakan sosial kemanusiaan, bukan hanya proyek fisik. “H. Bur memahami bahwa kekuatan sebuah kota bukan hanya pada gedung dan infrastruktur, tetapi pada solidaritas masyarakatnya.”









Komentar