oleh

Opini: Kritik Pawang Ular yang Diminta Menjinakkan Raungan Tawon

Oleh: Jacob Ereste 

Sejarah mencatat Umar bin Khattab sebagai khalifah yang membuka pintu kritik lebar-lebar. Ia bahkan berdoa agar Allah mempertemukannya dengan orang yang mau menunjukkan kesalahannya. Sebab, bagi Umar, kepemimpinan bukan soal kekuasaan untuk menindas, melainkan amanah untuk melayani. Sikap ini yang membedakan pemimpin sejati dari penguasa yang haus pujian.

Baca Juga  Menjaga Sikap dan Sifat Konsisten Dengan Laku Spiritual

Kritik, sekeras apa pun, mestinya disyukuri. Ia adalah rahmat yang menandakan rakyat masih peduli. Kritik yang tulus bertujuan memperbaiki, bukan menjatuhkan. Sebab pemerintah bukan membangun untuk dirinya sendiri, apalagi untuk segelintir pejabat. Pemerintah menjalankan amanah rakyat, demi dan untuk rakyat.

Kesediaan dikritik adalah cermin kerendahan hati. Ia menandakan penguasa sadar keterbatasan diri dan mau belajar. Ironisnya, hari ini banyak pejabat justru sewot ketika dikritik. Padahal jika kritik itu obyektif, rasional, dan sesuai kaidah hukum serta tata krama berbangsa, maka ia wajib didengar. Bukan diabaikan.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *