oleh

Opini: Kritik Pawang Ular yang Diminta Menjinakkan Raungan Tawon

Kini kita menyaksikan reformasi Polri—baik internal maupun yang dikerjakan tim bentukan Presiden—terkesan seperti pawang ular di kampung. Mereka justru diminta menenteramkan raungan tawon yang menyengat siapa saja yang lewat. Ketika raung itu mereda, para pawang dadakan itu pun menghilang entah ke mana.

Apakah reformasi hanya jadi proyek seremonial? Apakah kritik hanya ditampung untuk formalitas, lalu dilupakan? Jika iya, maka rakyat tak lagi percaya. Mereka akan bersuara dengan cara mereka sendiri. Karena suara rakyat bukan sekadar “suara Tuhan”, tapi suara yang harus didengar oleh mereka yang diberi amanah.

Baca Juga  MENGAPA KITA MEMILIH PERUT DAN MELUPAKAN KEPALA?

Pemerintah yang bijak tak hanya mendengar. Ia juga merespons. Dengan mendengar, pemerintah bukan hanya mendapat masukan, tapi juga dukungan. Bahkan untuk memperpanjang periode kekuasaan sekalipun, rakyat akan setia jika aspirasinya dihargai. Tapi jika kritik hanya dianggap “gangguan”, jangan salahkan rakyat jika mereka memilih diam… sampai meledak.

Kritik itu bukan racun. Ia vitamin. Maka jangan buru-buru memanggil pawang untuk membungkamnya. Sebab yang dibutuhkan negeri ini bukan pawang, tapi pemimpin yang mau mendengar.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *