Sayangnya, di dunia politik, kesetiaan semacam itu langka. Yang banyak terjadi justru sebaliknya: kesetiaan dijual kepada kepentingan tertinggi hari itu.
Politik Tanpa Konsistensi: Bajing Loncat dan “Tiada Makan Siang Gratis”
Politik Indonesia sudah terlalu lama hidup di atas adagium “tiada musuh dan kawan yang abadi, yang ada hanya kepentingan”.
Akibatnya, konsistensi jadi barang langka. Politikus kelas tiga pun hafal istilah “tidak ada makan siang gratis”. Hari ini lawan, besok kawan, lusa pengkhianat—semua bisa berubah dalam satu malam demi jabatan dan proyek.
Istilah “bajing loncat” bukan lagi hinaan, tapi hampir jadi budaya. Konsistensi dianggap naif, sementara kelincahan berpindah haluan dianggap cerdas. Padahal yang terjadi adalah pembusukan moral publik. Rakyat kehilangan pegangan, kepercayaan runtuh, dan demokrasi hanya jadi panggung pertukaran kepentingan.
Konsistensi Hanya Tumbuh di Tanah Kejujuran dan Cinta
Konsistensi tidak bisa dipaksa tumbuh di tanah yang gersang dari kejujuran dan keikhlasan. Ia hanya bisa hidup di taman cinta yang tulus, tanpa pamrih, yang saling melindungi dan menjaga.






Komentar