By: M.Guntur Alting
“Puisi memaksa kita berhenti sejenak, memperhatikan detil yang biasanya terabaikan: getar suara guru, tatapan mata seorang ibu, hingga sunyinya ruang kelas…”–W.S.Rendra
—
Di tengah riuh rendah dunia yang kian mekanis, waktu diukur dengan produktivitas, dan keberhasilan dinilai dari angka-angka, manusia seringkali merasa asing di rumahnya sendiri.
Kita berlari mengejar pencapaian, namun seringkali kehilangan arah ke mana jiwa harus pulang.
Di titik inilah, puisi hadir bukan sekadar sebagai susunan kata yang “berima,” melainkan sebagai detak jantung kedua bagi kemanusiaan kita.
Puisi adalah bahasa rahasia yang menghubungkan keterbatasan kata-kata dengan luasnya “samudera” perasaan.
-000-
Bahasa di Ambang Batas
Seringkali, kita mengalami momen di mana bahasa sehari-hari terasa terlalu sempit. Bagaimana cara menjelaskan rindu yang menyayat namun juga menenangkan?
Bagaimana menggambarkan rasa syukur yang begitu meluap hingga membuat sesak di dada?
Bahasa hukum atau teks akademik akan gagal di sini; mereka terlalu kaku untuk menangkap getaran jiwa yang cair.
Puisi bekerja di ambang batas tersebut. Ia tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi mentransmisikan rasa. Ia menggunakan “metafora” sebagai jembatan untuk menyeberangi jurang ketidakmungkinan.
Ketika seorang penyair menulis tentang “senja yang luka,” ia tidak sedang bicara soal astronomi, melainkan soal sebuah perih yang hanya bisa dipahami oleh mereka yang pernah kehilangan. Di sana, puisi menjadi ruang di mana hal-hal yang “tak terkatakan” akhirnya menemukan rumahnya.












Komentar