Di sini, Rizal menunjukkan kelasnya. Sebagai mantan Kepala Bappelitbangda dan Kadis Pariwisata, ia secara konsisten menjahit komunikasi yang elegan dengan Kesultanan Ternate.
Bagi Rizal, pembangunan Ternate harus memiliki “karakter.” Ia menyadari bahwa Ternate bukan sekadar titik koordinat ekonomi di Maluku Utara, melainkan pusat peradaban dengan filosofi Adat Se Atoran.
Visi kebudayaan inilah yang membuatnya memiliki nilai komparatif; ia adalah birokrat yang memahami bahwa kebijakan publik akan lebih ditaati jika ia bernapas dalam ruh kebudayaan lokal.
–000–
Antara Otoritas dan Kesejahteraan Rakyat
Selama 30 tahun berakar di Pemerintah Kota Ternate, pengabdian Rizal adalah sebuah catatan panjang tentang konsistensi.
Ada sebuah skeptisisme yang mungkin muncul: “Jika ia sudah lama di sana, mengapa masih ada warga yang belum sejahtera?”
Namun, dalam kacamata tata kelola negara, pertanyaan itu terjawab melalui batasan kewenangan.
Sebagai Sekretaris Daerah, Rizal adalah dirigen birokrasi. Namun, untuk menggerakkan seluruh instrumen kekuasaan demi akselerasi kesejahteraan, dibutuhkan otoritas penuh sebagai kepala daerah.
Aspirasi rakyat yang terekam dalam berbagai survei elektabilitas menunjukkan bahwa publik memahami distingsi ini.
Mereka melihat Rizal sebagai kader pemimpin yang telah “lulus sensor” administratif dan moral.
–000–
Menghadapi tantangan global dan lokal yang kian kompleks, Ternate membutuhkan pemimpin yang tidak lagi melakukan “uji coba.” Kehadiran Dr. H. Rizal Marsaoly membawa pesan stabilitas dan keberlanjutan (sustainability).
Ia adalah representasi dari pemimpin yang membumi, yang memahami setiap jengkal masalah kota, namun tetap memiliki daya jangkau visi ke masa depan.


Komentar