Tradisi dalam puisi religius Indonesia yang sarat muatan spiritual memang sudah ada sejak pujangga lama hingga pujangga baru sampai Republik Penyair dipimpin oleh Presiden Penyair Indonesia, Sutardji Kalzoum Bachri. Meski jauh sebelum itu — di Ngayogyakarta Hadiningrat pada tahun 1970-1980 — telah Republik Penyair Lokal, Presiden Penyair Malioboro yang disandang oleh Ki. Umbu Landu Paranggi. Dan cantrik unggulannya kini yang menjadi penguasa jagat spiritual dengan basis kepenyairannya yang religius dan penuh muatan spiritual itu ialah Kyai Kanjeng Emha Ainun Nadjib yang berhasil melakukan ekspansi ke berbagai daerah, wilayah bahkan kawasan luar dari negara Indonesia seperti Maha Patih Majapahit, Gajah Mada.
Akaha Taufan Aminudin selaku pihak penyelenggara dan pengundang acara baca puisi bernuansa spiritual ini pasti berharap peserta dari berbagai sanggar, padepokan atau bahkan seperti sindikat penyair dari berbagai daerah dan tempat berkenan ikut ambil bagian. Dari keikutsertaan acara webinar pembacaan puisi spiritual ini tentu saja tak cuma sekedar supaya marak dan meriah. Tapi dibalik semua itu acara semacam ini bisa dijadikan forum nostalgia sekalian acara kangen-kangenan, karena seingat saya HP3N dahulu yang digagas dan dimotori oleh penyair Yogya, seperti Redi Panuju, Na’im Emel Prahana, Eddy Lasicra, Fauzi Absal, Joko Pinurbo dan sejumlah penyair lain dari berbagai daerah, seperti Isbedi Setiawan (Lampung) dan kawan-kawan lainnya, perlu untuk disensus ulang. Setidaknya dengan begitu tidak sampai hilang dari catatan sejarah kepenyairan tanah air kita, seperti Ahmadun Yosi Herfanda yang punya karya “Do’a Untuk Yang Tidak Terlihat”. Dorothea Rosa Herliany punya puisi religius berjudul “Magnificat”. Afrizal Malna menulis puisi “Tuhan Ada di Mana-mana. Dan Wahyu Sulaiman Rendra menulis tentang ” Khotbah”, D. Zawawi Imron menulis puisi ” Do’a”. Hingga Danarto dengan karya puisi eksperimentalnya yang penuh simbol menuliskan puisinya berjudul”Abstraksi”.
Dan Ingat penyair Taufik Ismail punya banyak karya puisi religius yang dilantunkan Bimbo diantaranya “Sajadah Panjang” yang meren yang merentang sampai sampai kuburan. Artinya, spiritualitas itu pun hanya akan berakhir berakhir dan tertancap di batu nisan setiap penyair.












Komentar