oleh

Prabowo-Anies Dalam “Negative Correlation”

Tony Rosyid : Pengamat Politik dan Pemerhati Bangsa

Median merilis hasil survei bulan januari lalu. Salah satu pertanyaan yang diajukan ke responden adalah: jika pilpres digelar hari ini, anda pilih siapa? Hasilnya: 27,8 persen pilih Prabowo. 19,9 persen pilih Anies.

Dari hasil survei ini menunjukkan, elektabilitas Prabowo turun, sementara Anies naik. Inilah yang disebut dengan hukum “Negative Correlation” atau “korelasi negatif”. Prinsip hukum yang kelahirannya diinisiasi oleh Sir Francis Galton (1822-1911), yang kemudian dikembangkan oleh Karl Pearson (1857-1936)

Baca Juga  KEKAYAAN, TAMBANG, DAN KEGAGALAN POLITIK PEMBANGUNAN: MEMBACA KEPEMIMPINAN GUBERNUR SHERLY TJOANDA LAOS

Dalam hukum “Negative Correlation” berlaku prinsip: jika A naik, maka B turun. Begitu juga sebaliknya.

Prabowo dan Anies menempati posisi bersebelahan. Prabowo penguasa, Anies dipersepsi publik sebagai icon oposisi. Di sinilah berlaku hukum “negative correlation”. Jika elektabilitas Prabowo turun, maka elektabilitas Anies naik. Jika ekspektasi rakyat kepada Prabowo turun, maka ekspektasi rakyat kepada Anies naik. Begitu juga berlaku sebaliknya.

Baca Juga  NAKHODA BARU DAN ESTAFET INTELEKTUAL

Kenapa akhir-akhir ini ekspektasi rakyat kepada Prabowo turun? Salah satunya dipicu oleh penanganan banjir dan longsor yang terjadi beberapa bulan lalu di Sumatera. Tentu ada faktor-faktor kebijakan dan kinerja lainnya yang mempengaruhi turunnya ekspektasi rakyat kepada Prabowo.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *