oleh

Khairun Berduka di Negeri Kepulauan: Ketika Ilmu Berpulang, Tapi Tak Pernah Mati

Duka ini tidak boleh berhenti pada air mata dan upacara belasungkawa. Ia harus menjadi muhasabah institusional. Apakah sistem kaderisasi dosen telah disiapkan dengan serius? Apakah ilmu para senior telah dituliskan dan diwariskan? Apakah kita terlalu sibuk dengan administrasi, hingga lupa bahwa ilmu adalah amanah yang tak boleh ditunda?

Baca Juga  KETIKA NURANI MENJADI KOMPAS DI TENGAH BADAI ALGORITMA

Dalam hadis disebutkan, wafatnya seorang alim adalah retakan dalam agama, retakan yang sulit ditambal. Karena ilmu yang tidak diwariskan, akan ikut terkubur bersama pemiliknya.

Kini, dua cahaya telah padam. Tapi ilmu mereka harus tetap menyala. Universitas Khairun harus menjadikan duka ini sebagai titik balik. Ilmu harus terus hidup, meski tubuh telah kembali ke tanah. Semoga Allah menerima amal ibadah mereka, melapangkan kuburnya, dan menjadikan ilmu yang mereka ajarkan sebagai amal jariyah yang terus mengalir.

Baca Juga  Siapa Cawapres Prabowo 2029?

Dan semoga kita yang masih diberi waktu, tidak menunda kebaikan, tidak menunda menulis, tidak menunda membimbing, dan tidak menunda menyiapkan generasi. Karena tak seorang pun tahu, kapan namanya dipanggil dalam antrean pulang.

Innalillahi wa inna ilaihi raji’un.

Catatan Redaksi : Semoga opini Dr.Mukhtar Adam ini bisa menjadi refleksi yang lebih dalam dan menyentuh, serta menginspirasi pembaca untuk tidak hanya berduka, tetapi juga bergerak.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *