Oleh: Dr. Marwan Man Soleman, SE., M.Si :Akademisi FEB Universitas Khairun
Manajemen sebagai Pangung Sosial.
Dalam praktik organisasi modern, manajemen tidak lagi sekadar soal bekerja, melainkan soal menampilkan kerja. Di tengah keterbukaan informasi dan dominasi media sosial, birokrasi publik, perguruan tinggi, hingga BUMN berlomba menyusun narasi kinerja melalui laporan, seremoni, dan konten digital. Yang dikejar bukan hanya hasil, tetapi pengakuan atas hasil.
Manajemen pun menjelma menjadi panggung sosial. Dalam kerangka dramaturgi Erving Goffman (1959), organisasi bertindak sebagai aktor kolektif yang mengelola kesan: memilih apa yang ditampilkan, apa yang disembunyikan, dan bagaimana realitas kerja dikemas agar sesuai dengan ekspektasi publik. Rasionalitas organisasi tidak hanya dibangun lewat kerja nyata, tetapi lewat simbol, bahasa, dan citra.
Panggung Kinerja vs Realitas Pelayanan.
Di panggung kinerja, birokrasi terlihat rapi dan progresif. Indikator terpenuhi, target dilaporkan tercapai, dan reformasi digambarkan berjalan konsisten. Namun di ruang pelayanan, warga sering berhadapan dengan realitas yang berbeda: prosedur berbelit, respons lambat, dan kualitas layanan yang timpang antarwilayah.
Kesenjangan ini bukan semata persoalan kapasitas aparatur, melainkan akibat dari logika penilaian kinerja yang lebih menghargai kepatuhan administratif dibanding kenyataan pelayanan publik. Pelayanan dianggap berhasil jika laporan selesai tepat waktu, bukan jika masalah warga benar-benar terselesaikan. Akibatnya, birokrasi lebih sibuk mengelola panggung kinerja daripada membenahi realitas kerja.
Decoupling: Kinerja sebagai Simbol









Komentar