Oleh : M.Guntur Alting
HIDUP adalah nyala. Ia terasa bernilai sejauh memberi cahaya yang menerangi bagi sesama.
Di tengah-tengah era yang memuja capaian dan prestasi personal. Satu pertanyaan eksistensial yang kerap terpinggirkan “untuk apa hidup dijalani ? ”
Pertanyaan ini tidak lahir dari ruang yang kosong. Ia tumbuh dari kebudayaan yang memahami manusia sebagai mahluk sosial, bukan entitas terpisah yang berdiri sendiri.
Dalam pandangan filsafat ” hidup tidak pernah netral”. Kehadiran seseorang selalu membawa dampak, entah menyejukkan atau justru membakar.
Hidup yang baik bukanlah hidup yang paling bersinar terlihat secara individual, melainkan yang paling mampu menerangi sekitarnya Kata
Immanuel Kant.
Refleksi ini muncul saat, mendengar kabar kepergian sahabat sejati Ibrahim Muhammad kemarin (Rabu,16/12)
“Innalillahi wainna Ilaihi rajiun, telah berpulang kerahmatullah Haji Ibrahim Muhammad , Kakankemenag Tikep, di RSUD Tikep “. Demikian pesan Watshap yang masuk dari sahabat Dr.Sofyan Abbas.
Ruangan Pavilium Villa Green Sawangan Depok Jawa-Barat, tempat “ret-ret” dalam sesi materi Dr.Muhbib Abdul Wahab pun terasa hening.
Saya minta izin meninggalkan ruangan dan berpindah di bawah pohon yang rindang di halaman Villa Green yang ASRI
Dengan tertegun sambil menyandarkan punggung dikursi rotan. Aneka fragmen tentang “Baim” datang bergantian memenuhi pikiran saya.
Kenangan terakhir bersamanya adalah ketika Ia berbaik hati mengizinkan rumahnya di Kalumata Puncak, untuk ditempati selama sebulan di pertengahan September 2024.
“Ato..Tong bikin Mie eee…Inga waktu torang masih hidup susah di Asrama Nuku Makassar dulu ” — itulah ucapannya yang kembali hadir menggema.
Sebagai wujud rasa terimakasih saya ceritakan di pengantar buku saya ” Sejenak Hening” . Saya ingin mengutip kembali untuk mengenang kebaikannya :








Komentar