oleh

Deforestasi, Reforestasi, dan Trans Kieraha: Ketika Pembangunan Mengklaim Memulihkan, Namun Justru Menghancurkan

-OPINI-2226 Dilihat

Musriyoni Nabiu : (Presidium MW. KAHMI Malut)

Diskusi mengenai deforestasi di Indonesia sering kali dibungkus dengan narasi optimisme. Pemerintah mengklaim deforestasi menurun secara netto, rehabilitasi hutan meningkat, dan program reforestasi berjalan sesuai target. Di permukaan, semua itu terdengar menjanjikan. Namun jika kita mengkajinya secara ekologis dan memeriksa fakta lapangan, terutama di wilayah seperti Sumatra dan Halmahera, narasi tersebut lebih mirip ilusi kosmetik yang menenangkan telinga tetapi menutup mata pada kerusakan sesungguhnya. Dan dalam konteks ini, rencana pembangunan Trans Kieraha menjadi contoh konkret bagaimana proyek infrastruktur justru memperbesar deforestasi dan tidak bisa ditebus oleh reforestasi apa pun.

Pertama-tama, penting untuk membedakan apa itu deforestasi dan apa itu reforestasi. Deforestasi adalah kehilangan hutan sebagai ekosistem, bukan sekadar hilangnya batang pohon. Hutan primer memiliki lapisan-lapisan vegetasi, keanekaragaman hayati tinggi, jaringan akar yang mengikat tanah, mikroorganisme yang menjaga siklus nutrisi, dan fungsi hidrologis yang mempengaruhi iklim lokal maupun regional. Reforestasi, di sisi lain, hanyalah proses penanaman pohon kembali tanpa jaminan dapat memulihkan struktur ekologis kompleks yang hilang. Ketika pemerintah menyatakan deforestasi menurun karena jumlah pohon yang ditanam meningkat, pernyataan itu secara sains tidak dapat membenarkan hilangnya ekosistem tua yang terbentuk selama ratusan tahun.

Dalam laporan-laporan terbaru tentang bencana banjir bandang di Sumatra Utara, terlihat jelas hubungan langsung antara kerusakan hutan di Batang Toru dan intensitas banjir. Ketika pohon tua ditebang, kapasitas hutan menyerap air dan menahan aliran permukaan hilang. Hujan ekstrem kemudian langsung berubah menjadi banjir besar. Inilah dampak dari gangguan hidrologis akibat deforestasi. Reforestasi tidak bisa mengembalikan fungsi ini dalam waktu dekat: butuh puluhan tahun agar pohon muda memiliki kemampuan serupa, dan itu pun jika mereka tumbuh dalam ekosistem yang sehat. Masalahnya, reforestasi sering dilakukan di kawasan yang sudah rusak tanahnya, sehingga tingkat keberhasilan hidup pohon-pohon tersebut sangat rendah.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *