Ia mengajak semua pihak untuk melihat peringatan HGN dari perspektif penghormatan terhadap guru, bukan sebagai ajang politisasi atau manuver kekuasaan.
“Sebaiknya momentum HGN dilihat dari sisi apresiasi terhadap guru. Kritik yang terlalu fokus pada dugaan politik internal bisa menimbulkan persepsi keliru dan merugikan semua pihak,” ujarnya.
Sebagai mantan Ketua PGRI Kota Ternate, Wahda juga mengingatkan pentingnya menjaga komunikasi terbuka antara PGRI dan pemerintah daerah agar peringatan HGN tetap menjadi momen penghormatan tertinggi bagi tenaga pendidik.
“Kita harus memaknai HGN sebagai simbol penghargaan, bukan arena politisasi. Semua pihak, baik organisasi profesi maupun pemerintah, punya peran penting yang bisa saling melengkapi,” tutupnya.








Komentar