Diketahui, dalam sidang paripurna DPRD Malut, Nazla mempertanyakan efektivitas kunjungan Gubernur Sherly ke pusat yang menghabiskan anggaran besar namun tidak membuahkan hasil signifikan berupa proyek APBN untuk Maluku Utara. Ia bahkan menyebut Gubernur Sherly “gagal total” dalam melobi anggaran pusat.
Pernyataan tersebut memicu gelombang reaksi dari warga net yang kuat dugaan pendukung gubernur Sherly di media sosial, yang tidak hanya menyerang Nazla secara pribadi, tetapi juga menyeret nama almarhum ayahnya. Komentar-komentar bernada nyinyir dan provokatif pun bermunculan, memicu kemarahan publik yang menilai tindakan tersebut tidak etis dan tidak mencerminkan budaya Maluku Utara.
“Kritik Nazla adalah bagian dari tugas konstitusionalnya sebagai anggota DPRD dalam rangka melaksanakan fungsi pengawasan. Silakan ditanggapi secara argumentatif, tapi jangan mengaitkan dengan Bapak KH. Gani Kasuba sebagai orang tua kami, tokoh muslim dan tokoh kultural kami Tobelo-Galela,” tukas Ketua IKA TOGALE Hal-Sel ini.
Fenomena ini kembali menyoroti peran buzzer dalam dinamika politik lokal, yang kerap kali memperkeruh suasana dengan narasi-narasi yang tidak berdasar dan menyerang secara personal. Banyak pihak mendesak agar ruang publik, khususnya media sosial, tidak dijadikan ajang pembunuhan karakter, apalagi terhadap tokoh yang telah wafat dan tidak bisa membela diri.
Halifat mengajak semua pihak agar proporsional dalam mengeluarkan komentar dengan senantiasa mengedepankan kedamaian dan persatuan.









Komentar