Oleh: Usman Sergi/Pimred
Musyawarah Provinsi KONI Maluku Utara telah usai. Dan seperti pertandingan final yang tak perlu adu penalti, hasilnya sudah bisa ditebak: KH. Sarbin Sehe, Wakil Gubernur Maluku Utara sekaligus seorang Kiyai, terpilih secara aklamasi sebagai Ketua KONI Malut periode 2025–2030.
Aklamasi memang terdengar indah ; penuh kesepakatan, minim perdebatan. Tapi di lapangan politik, aklamasi kadang lebih mirip pertandingan di mana wasit, pemain, dan penonton sudah satu tim sejak awal. Maka tak heran, di luar arena Musprov, riak protes pun muncul: ada yang bilang beliau tak memenuhi syarat umum. Tapi bukankah dalam dunia olahraga, yang penting bukan siapa yang paling memenuhi syarat, tapi siapa yang paling fit dengan suasana?
—
Dari Mushalla ke Stadion: Doa Bertemu Doi
Ada yang bilang, olahraga adalah urusan otot, bukan otak. Tapi kini, Maluku Utara membuktikan bahwa olahraga bisa juga menjadi urusan doa dan anggaran.
Sebagai Wakil Gubernur, Sarbin Sehe memegang kunci duplikat kas daerah malut dan kunci ruang rapat yang menentukan berapa banyak uang akan mengalir untuk pembinaan atlet. Dan sebagai Kiyai, beliau memegang kunci surga doa yang bisa membuat atlet berlari sedikit lebih cepat dan bola melesat sedikit lebih tepat.
Dua kunci itu anggaran dan doa adalah kombinasi yang jarang dimiliki satu orang. Bayangkan saja, ketika cabang olahraga lain masih sibuk mencari sponsor, KONI Malut mungkin sudah mulai dengan pembacaan surah Al-Fatihah sebelum kick-off, sambil menandatangani proposal dana pembinaan.
Di tangan seorang Kiyai sekaligus Wagub, olahraga bukan lagi sekadar urusan fisik. Ia menjelma menjadi ibadah berjamaah di stadion terbuka. Barangkali kelak, setiap turnamen daerah akan dibuka dengan doa bersama dan ditutup dengan rapat anggaran.








Komentar