Menurutnya, langkah menuju kota inklusif tidak cukup dengan kebijakan di atas kertas. Dibutuhkan kesiapan di lapangan, terutama dalam hal peningkatan kapasitas tenaga pendidik dan penyediaan sarana prasarana yang memadai bagi anak-anak berkebutuhan khusus.
“Tahun ini para guru akan kami bekali dengan pelatihan dan pengetahuan tentang bagaimana menghadapi anak-anak dengan kebutuhan khusus. Guru harus menjadi jembatan antara potensi anak dan kesempatan belajar yang setara,” jelas Rizal.
Selain peningkatan kompetensi guru, pemerintah kota juga akan memastikan tersedianya fasilitas pendukung pendidikan inklusif, seperti ruang belajar adaptif, alat bantu ajar, dan aksesibilitas fisik di lingkungan sekolah.
Rizal menegaskan bahwa kunjungan ke SLB bukan sekadar seremoni, melainkan bentuk nyata dari komitmen moral dan kemanusiaan.












Komentar