OPINI

HE IS MY BROTHER : Di Mana Posisi Masjid [Part 60].

Anwar Husen/Kolomnis Tetap/tinggal di Tidore.

Semalam,ada hajatan pembacaan doa berkenan 200 hari berpulangnya almarhumah mertua saya di kediaman,di Santiong,Ternate.Acaranya di rangkai tausiyah peringatan 1 muharram oleh kerukunan keluarga Topo,Tidore,yang berdomisili di Ternate.

Di sesi tausiyahnya,seorang ustadz yang cukup di kenal mengungkap beberapa hal sebagai minimal,bentuk renungan bagi kita yang masih hidup.Sang ustadz ini berujar,kematian itu sendiri ada bentuk keadilan Tuhan.Jika tak ada kematian dan pengadilan di hari akhir kelak,banyak dari kita akan protes betapa Tuhan tidak berlaku adil.Orang jujur dan kufur,orang baik dan dan orang bertabiat buruk,orang saleh dan pelanggar perintah agama,akan mendapatkan perlakuan yang sama,tidak adil.Dia melanjutkan,jika nabi Adam Alaihissalam dan Siti Hawa di turunkan dari surga karena “melanggar” perintah Tuhannya maka kita yang hidup bergelimang dosa berharap mendapatkan surga.

Di jeda istirahat usai bersantap,saya mendengar sambil menyelami cerita karib sekaligus keluarga saya,yang mengelola BKM masjid Nurul Iman,Santiong.Dengan penuh semangat,dia mengungkap sesuatu yang di sebutnya “metode baru”.Ternyata yang di maksudnya adalah sadaqah beras setiap jum’at pagi yang jadi “terobosan” dan telah berjalan kurang lebih seminggu ini.Dia mengungkap fakta kehidupan keseharian di lingkungan itu soal ketimpangan ekonomi tertentu,yang menurut BKM yang di pimpinnya,harus hadir memberi solusi.Kita tak bisa berharap masjid harus menjadi ramai oleh jamaah tanpa mengenali problem yang di hadapi jamaah dengan berbagai latar sosialnya.Dan pemantik paling utama yang membuatnya tergugah adalah bahwa dia dan keluarga punya pengalaman ada warga yang mengetuk pintu rumahnya sembari berharap ada belas kebaikan meminjamkan beras.Tentu ada hal yang miris di tiris masjid.Seminggu terkumpul 6 karung beras dan petugas menyiapkan data yang “valid” untuk distribusinya.

Memang di kota Ternate khususnya,memberi sadaqah makanan di masjid,relatif telah menjadi gejala umum bagi yang berkelebihan rejeki tetapi sang ketua BKM ini beralasan bahwa cara ini juga,belum sepenuhnya menutup “celah” ekonomi keluarga jamaah,yakni bahwa tidak semua anggota keluarga merasa nyaman bisa menikmati sadaqah ini setiap waktu,makanya pilihan itu harus makanan yang bisa di olah di rumah sendiri ataupun di rumah kosan.Dan cerita ini menurutnya,mendapat banyak sambutan baik beberapa waktu setelah di “lounching”.Memang bukan hal baru.Di berita media,saya membaca ada partai politik tertentu yang begitu konsern terhadap persoalan keumatan,melounching “ATM Beras” di Maluku Utara.Pertai ini bagi saya,memang terlihat begitu kreatif dengan program-program keumatan.Mereka,Partai Keadilan Sejahtera.Dan meski bukan hal baru,memulainya dari masjid,mungkin bisa di bilang terobosan yang belum banyak di lakukan.Saya mengagumi ide BKM ini.

Program kemasjidan di Indonesia memang mulai berkembang jauh.Fungsi masjid tak lagi semata soal sholat berjamaah tetapi jauh dari itu,telah hadir sebagai media,turut memberdayakan hingga berkontribusi membangun ekonomi jamaah di lingkungannya yang butuh perhatian.Hal ini di dasari fakta yang kurang lebih sama seperti di ungkap ketua BKM tadi sebagai alasan.Masih banyak memang,kebiasaan dalam masyarakat kita yang di picu pemahaman tradisional tentang fungsi masjid : hanya “menambang” infak dan sadaqah umat dan menyimpannya berpuluh tahun tetapi sama sekali tak berpikir tentang kontribusinya bagi jamaah,minimal di lingkungannya.Fakta prilaku miris anak-anak di bawah umur yang terjadi di tiris masjid dan pernah saya tulis di part sebelumnya,adalah satu dari sekian contoh betapa kita belum bergeser dari pemahaman tradisional tentang fungsi masjid.Jangankan berpikir berkontribusi terhadap jamaah yang jauh sebelumnya telah berkontribusi menghadirkan masjid,bahkan kadang menjadi tempat yang tak membuat orang “nyaman” secara psikologis.Syarat utama beribadah itu “mengosongkan hati”,jika itu tak terjadi maka kita terpaksa mengajak orang untuk datang berjamaah lewat corong masjid,seolah ibadah itu hanya sekedar gerakan fisik semata tanpa makna.Suara di balik corong masjid justru jadi media yang tak nyaman dan mengundang antipati karena terkesan membangun sekat hingga “permusuhan”.

Ada kisah inspiratif dan bikin haru yang saya baca di sebuah WAG tadi pagi : Saat peperangan yang memanjang
di Jepang,seorang anak membawa adiknya yang telah mati di atas pundaknya,untuk dimakamkan.Seorang tentara melihat keadaan ini,seraya berkata: “Buang saja! Supaya kamu tidak capek”. Si kecil menjawab: Dia tidak berat, dia adikku.Tentara ini mulai paham,lalu pecah tangisan.Dan Sejak saat itu, gambar menggendong adik menjadi simbol persatuan di Jepang.

Alangkah indahnya itu bila menjadi motto kita semua: “Dia tidak berat, dia saudaraku”.Jika dia jatuh, aku angkat,jika dia capek,aku tolong,jika dia lemah,aku kuatkan,jika dia salah,aku maafkan,jika seandainya saja semua meninggalkannya,akan aku bawa dia di atas pundakku,sungguh dia tidak berat,dia saudaraku…..HE IS MY BROTHER.

Kita adalah muslim,kita adalah bersaudara : perumpamaan tentang bersaudara itu ibarat anggota tubuh,jika ada bagian yang tersakiti maka bagian lainnya ikut merasakan rasa sakit itu.Kita adalah muslim,kita adalah bersaudara : jika tetangga kita dalam kondisi kelaparan dan kita bisa tertidur nyenyak dalam kekenyangan maka kita di kenai akibat hukum Tuhan sebagai “pelanggaran” atas rasa saudara itu,beragama hanya untuk diri sendiri.

Dan memandang semua manusia sebagai sama,sebagai makhluk Tuhan yang punya derajat,harkat,martabat dan harga diri yang sama adalah “puncak” pengamalan dan kesadaran eksistensial beragama.Kita mestinya malu pada orang Jepang dalam potongan kisah tadi.Wallahua’lam.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *