OPINI

AKU CAWE-CAWE, MAU APA?

Smith Alhadar/Penasihat Institute for Democracy Education (IDe)

Suara itu menakutkan: demi bangsa, aku tidak bisa netral. Pernyataan ini hanya mungkin datang dari orang jahil, arogan, dan overconfidence. Meletakkannya dalam konteks persaingan bakal capres Ganjar Pranowo, Prabowo Subianto, dan Anies Baswedan, Jokowi menyatakan ia berpihak pada Ganjar dan Prabowo. Anies harus disingkirkan dari arena pilpres.

Seluruh malaikat pun menangis menyaksikan sikap culas pemimpin yang tak tahu diri ini. Memangnya lu siapa? Kok begitu percaya diri, mengabaikan amanat konstitusi, etika, aspirasi rakyat, dan desakan cendekiawan agar pilpres berjalan fair.

Bak diktator menjelang lengser keprabon, Jokowi ngotot yang berkompetisi hanya dua pasang capres-cawapres: Ganjar dan Prabowo dengan pasangan cawapres masing-masing. Komposisi capres-cawapres yang didukungnya bisa berubah, tapi dlm kondisi apapun Anies tak boleh ikut kompetisi.

Banyak orang marah, tapi Jokowi anggap enteng: memang kalian bisa apa? Yang juga mengganggu akal sehat kita adalah dukungan pada bakal capres yang cacat, dan menolak capres ideal. Prabowo terlibat penculikan 9 aktivis meskipun kemudian yang bebaskan semuanya.

Ia juga diberitakan luas hendak mengambil kekuasaan menjelang Soeharto lengser. Terakhir, Prabowo terlihat menjilati Jokowi, mantan pesaingnya yang berkhianat keoadanya, yang menimbulkan pertanyaan publik terhadap kejujurannya.

Rekam jejak Ganjar tak lebih baik. Tidak ada prestasinya selama memimpin Jawa Tengah sebagau gubernur dua periode. Provinsi itu menjadi yang termiskin di Pulau Jawa.

Kasus intimidasi Ganjar terhadap warga desa Wadas dan ketidakpeduliannya pada keluhan warga Pegunungan Kendeng mengingatkan kita pada perilaku Orde Baru. Tak kurang penting, ia diberitakan terlibat korupsi proyek e-KTP.

Anies bebas dari cacat apapun dalam konteks calon pemimpin negara. Rekam jejaknya ketika memimpin Jakarta mendapat apresiasi luas dari dalam maupun luar negeri.

Ia cerdas, berintegritas, dan akuntabel. Alhasil, tak ada unsur apapun yang mungkin menghubungkannya dengan Orba dan kebijakan korup. Asli ia putera reformasi. Kita tidak perlu tahu — dan harus tidak tahu — parameter yang digunakan Jokowi dlm menentukan tokoh yang layak dan tidak layak menggantikannya. Seolah ia dewa.

Memang sikap ini menunjukkan Jokowi orang berani. Berani ngawur dan tidak takut malu. Juga berani abai terhadap kritisisme. Ini hanya mungkin muncul daru org yang ketakutan terhadao legacy-nya yang barangkali akan mengancam dia dan keluarganya pasca lengser.

Ketakutan demikian dengan sendirinya menghilangkan akal sehatnya. Sampai-sampai ia tak mengindahkan norma demokrasi dan konstitusi, membuang kewajibannya untuk berlaku netral dan menjamin pilpres berjalan fair.

Memang orang seperti ini tidak mungkin menerima nasihat. Bisa jadi diam-diam ia telah menerima wangsit bahwa presiden adalah pemilik kebenaran. Maka, dia berhak menentukan apa saja yang terkait nasib bangsa. Kita mau bilang apa!?

Ia melihat hasil jajak pendapat lembaga-lembaga survey yang menyatakan tingkat kepuasan publik terhadao kinerja yang cukup tinggi sebagai pembenaran publik terhadap semua yang dilakukannya.

Dia lupa bahwa publik yang sama tidak menghendaki mandatnya diperpanjang atau Jokowi tiga periode. Jokowi terlena dengan puji-pujian palsu dari oligarki dan mereka yang mendapat keuntungan dari pemerintahannya.

Juga dari mereka yang ketakutan pada hantu Islam yang mereka ciptakan sendiri, seperti yang diperlihatkan Jusuf Wanandi, pendiri CSIS yang sejak dulu melihat Islam sebagai ancaman terhadap  kepentingan minoritas.

Sementara, suara pendukung Jokowi sangat gaduh, memaki siapa saja yang coba menyalahkan junjungan mereka. Mereka berbaris di belakangnya dengan tertib seperti itik pulang kandang sambil berteriak “sami’na wa ata’na”: kami dengar dan kami taat.

Dengan sendirinya membuat Jokowi makin percaya diri, ugal-ugalan, dan siap berbuat salah lagi sambil tertawa-tawa. Dihadapan para pemimpin media dan influencer medsos, dia bilang saya memang harus cawe-cawe dalam urusan pilpres demi bangsa dan negara ke depan.

Kita bertanya: sejak kapan dia memikirkan nasib bangsa? Prihatin pada nasib bangsa kok menumpuk utang, melayani oligarki dan kepentingan Cina, memiskinkan rakyat, dan menghambur-hamburkan uang rakyat dengan infastruktur yang mubazir!

Wajar kalau kita heran melihat ia mengklaim semua yang dilakukannya benar semuanya. Heran kita, kendati yang dilakukan hampir semua amburadul, dia menghraruskan penggantinya melanjutkan legacy-nya.

Hanya kriminal yang berpikir seperti ini, biar kejahatan-kejahatan yang dilakukan dapat disembunyikan atau dilindungi. Maka, kita melihat dia mengutak-atik pilpres seenak perutnya.

Institusi-inti tuai hukum dan orang-orang Istana diperalat untuk menyingkirkan Anies dan menganiaya lawan politiknya sambil mengatur konfigurasi koalisi dengan bakal capres-cawapres masing-masing. Kita tak habis pikir bisa-bisanya dia mengatur ini.

Memangnya Indonesia ini monarki miliknya dan karena itu hanya dia yang berhak mewariskan keoada siapa yg dia sukai? Padahal, Nabi Muhammad pun tidak mewariskan negara kepada Sahabat-sahabatnya  yang moralis, berintegritas, cerdas, dan mukhlis.

Tak kalah aneh, dia merasa diri superior, menolak bercermin diri pada sikap presiden pendahulunya, sebut saja SBY, yang jauh lebih cerdas dan berprestasi dari pada dia. Biar begitu, SBY lebih rendah hati, tahu keterbatasannya, dan patuh pada konstitusi.

Kita tahu para pakar hukum tatanegara dan aktivis demokrasi sudah memperingatkannya bahwa segala cara yang dia lakukan untuk menyingkirkan Anies tidak benar. Apa salah Anies? Lagi pula, apa mungkin capres yang didukungnya akan melanjutkan legacy-nya?

Sama sekali tidak dan memang tidak mungkin. Mereka akan menjalankan kebijakan sesuai realitas yang mereka fahami. Pembangunan infrastruktur yang ngawur dan ceroboh, seperti IKN, sangat mungkin tidak akan dilanjutkan siapa pun yang akan menggantikannya. Pasalnya, proyek itu tidak layak, tidak realistis, tidak populer, dan menguras sumber daya negara.

Boleh saja hari ini mereka berjanji meneruskan legacy-nya demi didukung Jokowi. Setelah menjadi presiden mereka akan bersikap “siapa lu, siapa gue”. Lagi pula, menurut hasil survey Litbang Kompas terkini, hanya 16% responden yang menyatakan akan mencoblos capres yang didukung Jokowi.

Dus, kalau presiden terpilih mengkhianati janji mereka, apa yang bisa dilakukan Jokowi yang telah mnjadi orang kebanyakan? Memangnya dia bisa ke Istana lalu memarahi Ganjar atau Prabowo atau lainnya yang menolak melanjurkan legacy-nya? Mimpi kali.

Jokowi harus dibangunkan dari ilusi bahwa capres yang didukungnya akan memenuhi janji mereka. Memangnya Jokowi melanjutkan legacy SBY? Kalau dia saja tak mau mengekor pada pendahulunya, bagaimana mungkin dia berharap penggantinya akan melakukannya? Apalagi, sebagian besar legacy-nya bermasalah.

Kita perlu memperingatkan Jokowi untuk berhenti berkhayal bahwa apa yang dilakukan pemerintahannya merupakan kesuksesan besar dan karena itu akan membawa kejayaan bangsa bila diteruskan penggantinya. Hanya monarki komunis di Korea Utara yang berpikir seperti ini.

Turunlah ke bumi dari kahyangan untuk menyadari bahwa realitas ekonomi, politik, dan sosial, yang diciptakannya merupakan pengrusakan bangsa dan negara yang hampir menyeluruh. Dalam konteks ini, Soeharto nampak innocent dibandingkan Jokowi.

Bakal capres yang didukung Jokowi — apakah mereka akan melanjutkan legacy-nya atau tidak — kecil kemungkinan mampu menambal kerusakan yang telah terjadi. Kalau saja mereka meneruskan, maka hanya malapetaka yang akan dihadapi bangsa ini.

Dus, cita-cita menghadirkan Indonesia yang jaya pada 2045, bertepatan dengan satu abad kemerdekaannya — hanya mimpi di siang bolong. Kalau bakal capres dukungan Jokowi mengambil jalan berbeda, hasilnya tak bakal jauh berbeda karena, selain tak punya gagasan sebagaimana Jokowi, mereka nirprestasi dan nirintegritas.

Kalau Jokowi “waras” dalam konteks “demi bangsa dan negara ke depan”, maka mestinya dia mendukung Anies, tokoh yang bersih dan visioner. Itu pun simpatisannya, bahkan Anies sendiri, menolak cawe-cawe presiden dalam pilpres.

Mereka hanya ingin presiden netral sehingga demokrasi kita mnjadi lebih matang dan pemilu mendapat legitimasi. Anies dan pendukungnya tak akan menyesal kalau kalah dalam kontestasi yang jujur dan adil. Dalam kompetisi apapun, kompetitor harus berani kalah agar karakter sportif bangsa bisa terbangun.

Jokowi tak perlu jumawa bahwa tak ada kekuatan manapun yang dapat menghadirkan ancaman terhadapnya, seburuk apapun yang dia lakukan. Toh, sekarang ia telah menguasai semua institusi negara, pemimpin parpol, relawan, rakyat kecil, dan buzzer — dan juga berhasil menciptakan ketakutan luas terhadao oposisi — yang siap membenarkan apapun yang dia lakukan.

Yang dia lupa, sejarah tak pernah mengagungkan tokoh culas dan jahil. Sekarang bisa saja kita tak berdaya menghentikan cawe-cawenya. Tapi masih ada hari esok dan perlawanan terhadapnya kian luas.

Bukan tidak mungkin cawe-cawe itu berujung pada nasib buruk yang akan dipikulnya kelak. Tak cukupkah pelajaran dari nasib Soeharto?

Tangsel, 1 Juni 2023 !

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also
Close