OPINI

Bermodal “Dekat” Saja Tak Cukup,Ini Murni Berdagang [Part.39].

Anwar Husen/Kolomnis tetap

Di lorong masuk samping kediaman saya,seorang bocah dengan android butut di tangannya,mondar-mandir.Beberapa kali,ke depan jalan dan balik lagi.Saat saya tanya,jawabnya sedang mencari signal.Tentu akses telepon ataupun internet,maksudnya.

Sering sekali saya menerima komplain dari teman-teman,baik yang domisilinya di Tidore ataupun di luar terkait signal yang parah ini.Ada teman dari Ternate,karena mungkin kesal,pernah bilang begini : torang yang tinggal di huk-huk saja signalnya bagus kong ini di dalam kota model bagini???maksudnya,kami yang domisilinya di wilayah pinggiran saja signalnya bagus,koq ini di dalam kota seperti begini???

Di sekitar kediaman saya,juga kata teman saya,jalan depan ke arah kampus universitas Nuku memang punya akses jaringan telepon dan internet yang lemah.Dan ini sudah cukup lama.Letak kediaman kami agak di ketinggian,di belakang,agak ke selatan,kantor Walikota Tidore Kepulauan.Jarak dengan tower pemancar telkomsel tak jauh,sekitar 500 hingga 600 meter arah pesisir.Jangankan berharap bisa mengakses internet,telepon biasa saja bisa tersambung jika mungkin sedang bernasib baik.Menggunakan antena untuk akses wifi dari teman selama ini,mulai terganggu,entah apa masalahnya.Meski telah di coba dengan menambah ketinggian tertentu antenanya.
□□□□□
Di tulisan pendek ini part.38 lalu,saya menulis pesan saat cerita lepas dengan karib saya di kampung sebelah bahwa pentingnya kampung kita punya wakil di parlemen,punya anggota DPRD maksudnya,karena punya akses terhadap program dan kegiatan pembangunan relatif terbuka meski punya nilai yang tak besar tetapi nyaris terus ada setiap tahun anggaran.Di pemilihan ini,suka atau tidak suka,kita menghadapi cukup banyak fakta dan hampir merata di mana-mana,bahwa lingkungan hingga kampung anda akan sulit mengakses program dan kegiatan jika tak punya wakil di gedung parlemen.Ini adalah realitas yang kita hadapi dan sulit di hindari saat ini,betapapun tempat-tempat atau titik yang tak menyumbang kemenangan tadi berada di samping gedung parlemen sekalipun.


□□□□□
Lain lagi ini.Di sebuah cerita lepas,karib saya “membocorkan” sedikit rahasia yang nantinya jadi “jurus” dan strategi seorang calon anggota legislatif mendatang,seorang pendatang baru dari partai tertentu.Apa itu???kurang lebih maksudnya adalah “beli” koli/gelondongan/utuh.Bukan lagi menyasar eceran.Jadi targetnya lebih pada “konpensasi” secara kelompok bukan orang per orang.Dan tentunya punya nilai dan manfaat publik.Karib tadi menyambungnya dengan guyon,laki-laki ini kontainer juga.Calonnya seorang lelaki dan terindentifikasi punya “persiapan matang”.Kata konteiner tadi adalah analognya.
□□□□□
Apa pesan paling penting yang hendak di sampaikan dari potongan obrolan pendek di atas???mungkin ini : dekat saja belum cukup.

Dalam “kasus” jaringan telepon dan internet yang tak “menyasar” di sekitar kompleks kami yang tak jauh berjarak dengan tower pemancar telekomunikasi,teman saya yang paham IT dan cukup lama terlibat soal-soal begini bertutur bahwa perangkat yang berfungsi memancarkan jaringan di tower tadi hanya 2,masing-masing sebelah menyebelah dan tidak menghadap ke arah di sekitar kami.Mungkin saja hanya bisa terakses sedikit saja dari sisinya.Mungkinkah karena target pelanggan atau pemakainya yang di kejar,entahlah.Yang pasti,arah yang di tuju tadi lebih ke perkampungan yang “padat” potensi penggunanya.Jika ini benar maka kita harus menerima fakta bahwa tak ada lagi “fungsi sosial” dalam urusan komunikasi telepon ini.Satu-satunya fungsi adalah komersial.Ini di benarkan kawan saya tadi.Dia sedikit memberi bocoran bahwa “perang bisnis” di sektor ini sedang berlangsung “sengit”.Sambungnya,kita tak bisa berharap lagi ada akses murah apalagi gratis,semuanya berbayar.

Saya bilang padanya,kalau begini situasinya maka jaringan tetap berbentuk kabel misalnya yang melewati,bahkan hingga cenderung mengganggu “wilayah udara” halaman rumah yang jadi hak kita maka kita berhak untuk komplain hingga meminta konpensasi.Berbeda dengan kadar fungsi sosial terhadap akses air bersih dan lampu penerangan PLN,misalnya.Jadi masing-masing kita punya kepentingan “bisnis”,tak elok saling komplain.simpel saja.

Sebagaimana di pemilihan calon anggota legislatif,kedekatan secara personal juga tak cukup menjamin akses anda terhadap pembagian kue pembangunan,misalnya.Satu-satunya cara adalah harus menjadi “penjamin” kemenangan yang lebih besar dan berbentuk kelompok.Makanya,suka atau tak suka,akses harus di bangun dengan kontribusi yang “signifikan”,tidak saja dengan secara personal atau orang per orang.

Penjual jasa telekomunikasi mungkin berhitung dengan potensi penggunanya,calon anggota legislatif juga berhitung dengan potensi suara yang mengakses keterpilihannya.Dan bocah di sekitar kediaman saya yang tak jauh berjarak dengan tower telekomunikasi tadi,mondar-mondir kesana-kemari hanya untuk mencari akses terhadap signal telepon dan internet dengan HP bututnya.Masing-masing “sibuk” dengan urusannya,urusan privat,bukan lagi publik.Bermodal “dekat” saja tak cukup,ini sudah murni berdagang.
Wallahua’lam.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *