BUDAYA

Refleksi Diri : Belajar berlaku adil dari hal-hal kecil.

By.Anwar Husen /Birokrat, Pemerhati Sosial.

Dalam keseharian hidup,setiap kita sering menghadapi bahkan mengalami fakta ini : harapan dari sebuah usaha bersama yang pupus gara-gara nilai setiap jerih payah di anggap tak setara kontribusinya.

Secara subjektif,setiap kita punya sensitifitas rasa ‘adil’ yang berbeda takarannya.juga,berbeda takaran bagaimana membaginya jika berkait dengan jasa orang lain dalam sebuah usaha bersama misalnya.makanya,berada pada posisi “pembagi” itu teramat berat.siapapun kita,pernah berada pada posisi itu : kepala keluarga, ketua RT,kepala desa,pemegang jabatan di pemerintahan,direktur perusahaan bahkan hingga kepala daerah dan seterusnya.akumulasi jumlah/nilainya saja yang membedakannya.

Subjektifitas rasa adil di perlukan ketika aturan tidak tegas mengaturnya.atau bahkan untuk menakar nilai “bonus” di luar yang di atur resmi.itu bisa menakar siapa yang semestinya mendapatkan bagian 10 persen25 persen,50 persen bahkan mungkin harus 100 persen dari nilai lebih/selisih usaha karena proporsi andil dan jasanya.juga di perlukan,tidak saja karena aturan telah tegas mangaturnya karena faktanya,”memangkas” hak orang itu kerap menjadi cerita umum yang sering kita dengar.apalagi jika tidak tegas di atur tetapi lebih pada aturan “baku percaya” saja.

Takaran ini memang relatif dan tak kwantitatif sehingga butuh “maqam” tertentu untuk merepresentasikan rasa adil banyak orang.bahkan ada orang yang mencoba untuk memberi bobot kwantitatif dari setiap tindakan/jasa hanya untuk mendapatkan “gambaran” dan ukuran rasa adil itu.

Dan dari sini,kita bisa menakar kadar kebaikan dan ketamakan/kerakusan seseorang dalam urusan “bagi-membagi” terkait jasa dan kontribusi setiap orang dalam sebuah peran bersama.

Ada yang merasa surprise saat menerima ‘konpensasi’ atas jasanya karena merasa begitu besar,tak setara dan tak di duganya,tetapi ada juga yang nyaris pingsan karena kaget tak menduga pengorbanannya yang luar biasa tetapi mendapatkan imbalan yang jauh dari harapannya bahkan merasa terhinanya karena ‘nilai’ dirinya ternyata begitu rendah dan tak menusiawi.situasi inilah kemudian memicu banyak fakta ketidakpuasan,merenggangkan pertemanan hingga sama sekali terputus silaturrahmi.

Dalam situasi surprise karena berlebih dan merasa terhina karena nilai yang di pandang tidak manusiawi inilah,karakter pribadi,rasa adil,kadar rakus dan tamak seseorang di berikan bobot “nilai” oleh banyak orang.

banyak potensi fitnah dan terputusnya silaturrahmi dan hubungan kemasyarakatan dan kemanusiaan di mulai dari hal-hal begini.wallahua’lam. !

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *