TERNATE – Panggung Balai Pelatihan Vokasi Ternate, Jumat (9/10/2026), terasa berbeda. Bukan sekadar Konferensi Kerja I PGRI Masa Bakti XXIII. Di sana, dua pemikiran futuristik Kota Ternate bertemu dalam satu panggung.
Di satu sisi ada Dr. H. M. Tauhid Soleman, Wali Kota Ternate, sang arsitek visi kota. Di sisi lain ada Dr. Rizal Marsaoly, Sekretaris Daerah sekaligus Ketua PGRI Kota Ternate, sang jenderal birokrasi yang kini menatap masa depan dari lorong kelas.
Keduanya berbicara tentang hal yang sama: guru. Tapi dengan frekuensi masa depan.
RIZAL MARSAOLY: GURU HARUS NAIK KELAS DARI KAPUR KE AI
Rizal Marsaoly membuka dengan refleksi 81 tahun PGRI. Bagi Rizal, usia itu bukan soal tua, tapi soal ujian persatuan.
Ia lalu mengutip falsafah Ternate yang jarang diucapkan pejabat di forum resmi: “Ino Fomakati Nyinga, doka gosora se bualawa, om doro fo mamote, fo magogoru, fo ma dudara.” Semangat persaudaraan, kebersamaan dalam memikul tugas organisasi.
Tapi Rizal tidak berhenti di nostalgia. Ia langsung menembak ke depan.
Menurutnya, tantangan guru Ternate hari ini bukan lagi sekadar kurikulum. Tantangannya adalah disrupsi.









Komentar