oleh

DUNIA DI BALIK AKRONIM — Dari MBS, MBZ, MBG Timur-Tengah hingga MBG Indonesia

Oleh : M.Guntur Alting


Di bawah langit Jakarta yang dipadati gedung-gedung pencakar langit, kita sering membandingkan diri dengan kemegahan padang pasir Saudi atau modernitas “futuristik” UEA.

Kita menatap kagum pada MBS dan MBZ yang membangun monumen-monumen beton raksasa sebagai pertaruhan atas masa depan negara mereka.

Namun, di sini, narasi nasional kita bergeser dari tumpukan baja ke atas piring-piring makan—sebuah kebijakan bernama MBG (Makan Bergizi Gratis).

Ini bukan sekadar program populis, melainkan sebuah pertaruhan besar bagi masa depan modal manusia kita, yang menuntut ketelitian logistik melebihi kerumitan membangun kota di atas gersang.

Di sini, kita tidak sedang merajut mimpi di atas pasir, Namun menghitung kalori di atas meja kayu yang mulai berdesir. Bukan menara emas yang kita kejar hingga menyentuh awan, Melainkan masa depan bangsa yang kita tuang dalam piring sarapan.

Baca Juga  Siapa Cawapres Prabowo 2029?

Satu sisi membangun beton, satu sisi membangun sinapsis dan darah, antara ambisi penguasa dan perut rakyat yang harus segera dijamah.

Inilah ironi bangsa: apakah kita sedang membangun fondasi, atau sekadar memberi makan mimpi di tengah riuhnya birokrasi?

–000–

Kemarin, muncul sebuah status di beranda Facebook membuat saya atau siapun tersenyum, saat membacanya.

Status itu bertuliskan :

” Saudi punya MBS (Muhammad Bin Salman), UAE punya MBZ (Muhammad Bin Zayed), Iran punya MBK (Muhammad Bagher Ghalibaf) dan Indonesia punya MBG alias Makan Bergizi Gratis.”

Baca Juga  Rizal dan Wajah Baru Birokrasi Kota Ternate

Dalam peta politik dunia saat ini, inisial tiga huruf telah menjadi semacam “tanda pangkat” bagi pemimpin yang memegang kendali penuh atas nasib bangsanya.

Di Arab Saudi, kita mengenal MBS (Mohammed bin Salman) yang merombak total struktur sosial dan ekonomi kerajaan.

Di Uni Emirat Arab, ada MBZ (Mohammed bin Zayed) yang dikenal sebagai arsitek modernisasi ambisius.

Bahkan di Iran, sosok seperti MBK (Mohammad Bagher Ghalibaf) menjadi variabel penting dalam konstelasi kekuasaan parlemen mereka.

Bagi negara-negara tersebut, inisial itu melekat pada persona seorang manusia. Mereka adalah simbol kekuatan, kebijakan terpusat, dan visi tunggal yang dijalankan dengan tangan dingin.

Baca Juga  Dr. H. Rizal Marsaoly, Potret Sukses Kader Pemimpin di Kota Ternate

Namun, ketika kita menarik narasi ini ke bumi Indonesia, akronim MBG tidak lagi merujuk pada sosok individu yang duduk di singgasana kekuasaan.

Di Indonesia, MBG telah mengalami transformasi makna yang sangat membumi: Makan Bergizi Gratis.

Jika pemimpin di Timur Tengah menggunakan inisial mereka untuk memproyeksikan kekuatan negara ke luar. Indonesia menggunakan MBG sebagai upaya untuk memperkuat fondasi di dalam—tepatnya di meja makan anak-anak bangsa.

Ini adalah sebuah pergeseran paradigma yang menarik:

–000–

Dari Persona ke Kebijakan:

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *