Jakarta, 25 Oktober 2025 – Sore itu di Gedung Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jakarta, tepuk tangan riuh bergema ketika nama Harita Nickel diumumkan sebagai penerima Penghargaan Subroto 2025. Bukan satu, melainkan dua penghargaan sekaligus untuk kategori pendidikan dan kesehatan.
Bagi sebagian orang, penghargaan mungkin hanya simbol apresiasi. Namun bagi masyarakat di Pulau Obi, Halmahera Selatan, Maluku Utara, dua penghargaan itu punya makna yang jauh lebih besar: bukti nyata bahwa tambang bisa menjadi sumber kehidupan, bukan sekadar penghasil logam.
—
Dari Desa Gambaru hingga Soligi: Ketika Perubahan Dimulai dari Sekolah dan Posyandu
Di Desa Gambaru, tawa anak-anak kini lebih sering terdengar dari bangunan sederhana yang dinamai Rumah Belajar Komunitas. Dindingnya dipenuhi gambar warna-warni dan papan tulis kecil yang mencatat cita-cita mereka “ingin jadi dokter”, “guru”, “pilot”.
Rumah Belajar ini adalah hasil inisiatif Harita Nickel melalui program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM) di bidang pendidikan. Di sini, anak-anak dari Desa Gambaru, Ocimaloleo, dan Fluk belajar membaca, menulis, dan berhitung dengan cara yang menyenangkan.
“Dulu anak-anak malu kalau diminta membaca di depan kelas. Sekarang mereka berebut untuk tampil,” ujar salah satu relawan pengajar dengan senyum bangga.
Tak jauh dari sana, di Desa Soligi, perubahan serupa terjadi namun dengan misi berbeda: menghapus stunting dari desa.
Melalui program Soligi Zero Stunting, Harita Nickel menggandeng tenaga kesehatan, kader posyandu, dan ibu-ibu muda untuk bersama menurunkan angka stunting yang sempat tinggi di wilayah itu.
Program ini bukan hanya tentang pemberian makanan tambahan. Lebih dari itu, ia menanamkan pemahaman baru: gizi yang baik bisa bersumber dari kekayaan lokal dari pisang, ubi, ikan, hingga daun kelor.








Komentar