Langkah kecil yang diambil Rizal Marsaoly, Ketua PGRI sekaligus Sekretaris Kota Ternate, untuk mengunjungi anak-anak di Sekolah Luar Biasa (SLB) Kelurahan Makassar Barat mungkin tampak sederhana. Namun di balik gestur yang humanis itu, tersimpan gagasan besar tentang masa depan Ternate sebagai kota inklusif—sebuah kota yang menempatkan kemanusiaan sebagai inti dari pembangunan.
Inklusifitas bukan jargon baru. Banyak kota di Indonesia menggaungkannya, namun hanya sedikit yang benar-benar melangkah dalam praktik. Apa yang dilakukan Rizal menunjukkan bahwa inklusifitas bukanlah proyek, melainkan kesadaran moral dan politik untuk memberi ruang bagi setiap warga tanpa terkecuali. Ia memahami bahwa pembangunan sejati bukan hanya membangun jalan dan gedung, tetapi membangun rasa keadilan dan kesempatan yang sama bagi semua anak bangsa—termasuk mereka yang berkebutuhan khusus.









Komentar