Tauhid menggeser definisi kualitas guru. Baginya, kualitas guru tidak hanya diukur dari kemampuan akademik dan profesional.
“Kualitas guru tidak hanya diukur dari kemampuan akademik dan profesional, tetapi juga dari integritas, karakter, kepedulian, dan kemauan untuk terus belajar,” kata Tauhid.
Ini adalah pemikiran futuristik yang paling mendasar. Di era AI bisa mengajar matematika lebih cepat dari guru, yang tidak bisa digantikan AI adalah integritas dan karakter. Dan itulah yang ingin dibangun Tauhid untuk SDM Ternate.
Tema Konker kali ini, “Memperkuat Silaturahmi dalam Mewujudkan Guru Bermutu, Indonesia Maju”, menurut Tauhid adalah kunci. Tanpa silaturahmi antara guru, PGRI, pemerintah, sekolah, dan orang tua, pendidikan bermutu hanya akan jadi jargon.
KETIKA DUA VISI BERTEMU
Di Balai Vokasi itu, pertemuan dua tokoh ini menjadi simbolik.
Tauhid Soleman sebagai Wali Kota melihat pendidikan sebagai hulu dari semua pembangunan kota. Rizal Marsaoly sebagai Sekda dan Ketua PGRI melihat guru sebagai hilirnya, eksekutor yang menentukan berhasil tidaknya visi itu.
Tauhid bicara tentang kenapa guru harus bermutu. Rizal bicara tentang bagaimana guru menjadi bermutu: lewat coding, AI, dan perlindungan hukum.
Satu membangun jiwa, satu membangun keterampilan. Satu menatap masa depan kota dari kantor Wali Kota, satu menatap masa depan yang sama dari ruang kelas.















Komentar