“Bunga Rp.179 miliar lebih itu kalau dipakai bangun jalan tani kurang lebih 200 KM, dampaknya langsung ke petani. Sangat produktif mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif,” tegasnya.
Ia menilai jalan tani adalah infrastruktur basis yang menyentuh langsung kantong masyarakat bawah. Berbeda dengan bunga pinjaman yang hanya jadi beban APBD tiap tahun tanpa meninggalkan aset fisik.
Kritik Kebijakan Utang di Tengah Dana Menganggur
Sofyan sebelumnya juga mempertanyakan urgensi utang. Ia menilai Pemprov harus dulu memastikan apakah APBD 2026 benar-benar defisit dan apakah defisit itu memenuhi syarat KMK.
“Kalau tidak defisit, untuk apa memaksa ambil pinjaman? Apalagi bunganya besar. Itu sama saja kita pilih membayar bunga, bukan membangun produktivitas,” ujarnya.









Komentar