“Dari Sofifi, pusat pendidikan vokasi bisa dibangun untuk menjawab rendahnya kualitas SDM. Dari Sofifi, layanan kesehatan regional bisa diperkuat. Dari Sofifi, logistik pangan lokal bisa diatur,” tulis Om Pala.
Ia menyoroti transformasi agraris ke industri yang cepat, namun SDM masih didominasi lulusan SMP. “Akibatnya, hilirisasi hanya memperbesar ekonomi daerah tanpa memperkuat manusia lokal. Tambang tumbuh, tapi tenaga terampil datang dari luar.”
Desakan: APBD Harus Jadi Instrumen Koreksi Ketimpangan
APBD disebut seharusnya menjadi instrumen koreksi terhadap ketimpangan pasar dan industri. “Tapi jika belanja hanya jadi rutinitas kegiatan, perjalanan dinas, dan proyek terpisah, maka pemerintah gagal memainkan fungsi redistribusi.”
APBD Malut, menurut catatan itu, harus diarahkan untuk membangun manusia, memperkuat pangan, menurunkan biaya logistik, memperbaiki layanan pulau kecil, dan menjadikan Sofifi sebagai pusat pelayanan nyata.
Jangan Makamkan Janji Politik
Om Pala menyebut jejak visi Benny-Sarbin mulai terlupakan setelah Benny Laos meninggal dalam duka Taliabu. “Gagasan yang baik tidak boleh ikut dimakamkan. Sarbin Sehe, pemerintah hari ini, DPRD, akademisi, dan masyarakat sipil perlu membaca ulang substansi janji politik itu.”
Ia mengingatkan, bagi rakyat di pulau-pulau, janji politik adalah kontrak moral. “Harapan yang diabaikan terlalu lama bisa berubah menjadi sinisme. Itu bahaya bagi demokrasi lokal.”
Sofifi Halmahera Metropolitan, tegasnya, bukan sekadar proyek kota. “Ia adalah desain untuk menyusun ulang rumah bersama. Menghubungkan pertumbuhan ekonomi dengan pemerataan, hilirisasi dengan SDM lokal, pulau kecil dengan pusat layanan, pascakonflik dengan keberagaman.”








Komentar