“Dengan simulasi seperti ini, siswa tidak hanya mengetahui, tetapi juga merasakan langsung bagaimana proses ibadah haji. Mulai dari mengenakan ihram, merasakan panasnya wukuf, hingga lelahnya sa’i. Ini semua menjadi bagian dari pembentukan karakter ketaatan dan kesabaran,” jelasnya.
Selain kegiatan praktik, edukasi tentang ibadah haji juga diberikan melalui pembelajaran di dalam kelas. Melalui program Bina Pribadi Islam (BPI) yang rutin dilaksanakan setiap hari Rabu, para guru menyisipkan materi tentang pentingnya mempersiapkan diri untuk menunaikan ibadah haji sejak dini.
Salah satu poin penting yang ditekankan adalah kesadaran untuk menabung. Mengingat masa tunggu keberangkatan haji di Indonesia yang bisa mencapai puluhan tahun, siswa diajak untuk memahami bahwa perjalanan menuju Baitullah memerlukan kesiapan, baik secara finansial maupun spiritual.
Lebih jauh, SIT Darul Fikri Makassar juga membuka peluang kerja sama dengan sekolah lain yang ingin memanfaatkan fasilitas manasik haji yang telah mereka kembangkan. Langkah ini diharapkan dapat memperluas manfaat kegiatan serta menjadi sarana syiar Islam yang lebih luas di tengah masyarakat.
Kegiatan manasik haji ini pun tidak hanya meninggalkan kesan mendalam bagi para siswa, tetapi juga menjadi momentum refleksi bagi seluruh pihak yang terlibat. Di balik langkah-langkah kecil para “jemaah kecil” tersebut, tersimpan harapan besar yang terus ditanamkan.
Harapan agar suatu hari nanti, mereka benar-benar dapat memenuhi panggilan suci ke Tanah Haram. Harapan yang tumbuh dari pengalaman sederhana di halaman sekolah, namun sarat makna dan nilai spiritual.








Komentar