Peran tersebut tidak hanya bertujuan untuk memperlancar kegiatan, tetapi juga sebagai sarana pembelajaran karakter bagi siswa. Mereka dilatih untuk memiliki jiwa kepemimpinan, tanggung jawab, serta kepedulian terhadap sesama.
Simulasi manasik haji ini dirancang dengan alur yang mendetail dan sistematis. Kegiatan dimulai dari niat ihram di Miqat yang disimulasikan di dalam kelas masing-masing. Selanjutnya, para siswa bergerak menuju area Arafah yang ditempatkan di lingkungan SMP untuk melaksanakan wukuf.
Perjalanan kemudian dilanjutkan ke Muzdalifah, sebelum menuju Mina untuk melaksanakan lempar jumrah. Setelah itu, para peserta kembali ke pusat kegiatan di halaman sekolah untuk melakukan tawaf mengelilingi replika Ka’bah, dilanjutkan dengan sa’i antara Shafa dan Marwah, hingga diakhiri dengan tahalul sebagai tanda selesainya rangkaian ibadah.
Ketua Panitia kegiatan, Ustadz Zabir S, menyampaikan bahwa kegiatan ini tidak sekadar simulasi biasa, melainkan bagian dari syiar Islam yang dikemas dalam bentuk edukasi praktis.
“Kami ingin anak-anak sejak dini memiliki gambaran nyata tentang pelaksanaan ibadah haji. Tidak hanya secara teori, tetapi juga secara fisik dan emosional. Harapannya, tumbuh kerinduan dalam diri mereka untuk suatu saat bisa menunaikan ibadah haji secara langsung,” ungkapnya.
Senada dengan itu, Ketua Yayasan SIT Darul Fikri Makassar Ustadz Rasyidin Adnan SH.I, menegaskan bahwa kegiatan manasik haji ini merupakan agenda tahunan yang menjadi ciri khas sekolah. Ia menilai bahwa pembelajaran berbasis praktik memiliki dampak yang lebih mendalam dalam membentuk karakter religius siswa.








Komentar