oleh

“Kepala Daerah Ence”: Ketika Oligarki Lokal Menggantikan Negara di Desa

Fenomena ence tak bisa dibaca hitam-putih. Mereka adalah produk dari kekosongan negara. Ketika koperasi sehat tak tumbuh, akses pembiayaan murah tak tersedia, harga hasil bumi tak stabil, dan logistik antarwilayah buruk, maka ruang itu pasti diisi aktor nonnegara.

Solusinya bukan membatasi ence. Itu hanya akan mematikan satu-satunya akses yang dimiliki warga. Yang diperlukan adalah membangun alternatif ekonomi rakyat yang lebih kuat: koperasi digital modern, BUMDes dan Koperasi Merah Putih yang benar-benar berfungsi, pembiayaan murah bagi petani-nelayan, serta sistem logistik desa yang kompetitif.

Baca Juga  Pencitraan Palsu Adalah Sikap dan Sifat Yang Sombong dan Bodoh

Pada akhirnya, ence adalah cermin kapitalisme lokal Indonesia. Adaptif, berbasis jaringan sosial, mengakar di desa. Tapi tanpa intervensi negara yang serius, mereka berpotensi menjadi monopoli baru yang mengekang masyarakat. Dari toko kecil di lorong kampung, mereka bisa tumbuh menjadi penguasa tanah, hasil bumi, bahkan arah politik desa.

Dan ketika ekonomi sudah terkonsolidasi sempurna, lahirlah kekuasaan baru. Tidak selalu terlihat dalam struktur formal negara, tapi sangat nyata dalam kehidupan sehari-hari warga.***

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *