*Dari Papan Tulis ke Kolaborasi Lintas Sektor*
Rizal tak menampik bahwa guru tetap jadi ujung tombak. Tapi ia menekankan, kemajuan pendidikan tidak akan lahir jika hanya guru yang bekerja sementara orang tua, masyarakat, dan dunia usaha diam di pinggir lapangan.
Bayangkan seorang siswa di Ternate yang berangkat sekolah dengan semangat, tapi pulang ke rumah tanpa dukungan belajar. Atau sekolah yang kekurangan fasilitas, sementara potensi dunia usaha di sekitarnya tidak pernah dilibatkan. Itulah kesenjangan yang ingin diurai Rizal lewat semangat “partisipasi semesta”.
Baginya, pendidikan bermutu tidak berhenti pada nilai rapor. Ada sesuatu yang lebih dalam: pembentukan karakter, integritas, dan kepedulian sosial. Nilai-nilai itu tidak bisa diajarkan hanya lewat buku teks. Ia lahir dari lingkungan belajar yang aman, inklusif, dan kolaboratif.








Komentar