HALMAHERA TIMUR — Di laboratorium sederhana SMAN 2 Halmahera Timur, bau kulit pisang yang difermentasi sempat jadi bahan candaan teman-teman sekelas. Tapi bagi Wibi Hamidah, 17, dan Sitti Namira Said, 16, aroma itu adalah aroma kemenangan.
April ini, keduanya pulang dari University Malaysia Terengganu membawa Gold Award dan Best Poster Terengganu International Science Fair (TISF) 2026. Mengalahkan puluhan tim dari berbagai negara lewat riset “Application of Banana Peel Extract-Enriched Biomulch for Enhancing Growth and Pest Resistance in Optimizing Nutmeg Cultivation”.
Ide dari Kebun Pala Bapak
Idenya lahir dari obrolan di rumah. “Bapak saya petani pala. Sering cerita soal hama dan mahalnya mulsa plastik. Kami mikir, limbah di dapur kan banyak. Kulit pisang misalnya, biasanya cuma dibuang,” kata Wibi, siswi kelas XI IPA 1 yang hobi biologi sejak SMP.
Namira, partner risetnya dari XI IPA 2, menambahkan, “Kami iseng uji kandungan kulit pisang. Ternyata tinggi kalium dan senyawa anti-jamur. Dari situ kepikiran bikin biomulsa.”
Nge-lab Sepulang Sekolah, Gagal 11 Kali












Komentar